[18 November 2025] Sekitar Halaman Penginapan Ranu Pina – 6:15 WIB
Cahaya fajar mulai merekah di ufuk timur. Langit perlahan berubah jingga pucat, sementara angin pagi seakan menusuk hingga tulang.
Napas para mahasiswa terlihat samar di udara, membentuk kabut tipis setiap kali mereka menghembuskannya. Namun itu tak cukup untuk menciutkan semangat mereka.
Pagi itu, seluruh rombongan mahasiswa Pak Anva dikumpulkan di sebuah tanah lapang berumput di sekitar penginapan Ranu Pina.
Apel pagi dan pemanasan singkat dilakukan, sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumba, tempat bunga Verbena yang misterius itu diduga berada.
“Gimana? Masih pada semangat semuanya?!” goda Pak Anva lantang, meski jaket tebal masih setia membungkus tubuhnya.
“S-s-semangat, P-paak ….”
Jawaban itu terdengar kompak, namun terbata-bata. Beberapa mahasiswa menggigil, bahu-bahu mereka refleks terangkat, menahan hawa pegunungan.
Pak Anva mengernyit, lalu tersenyum kecil.
“Loh? Kenapa? Apa masih kurang tidur jam sepuluh malam kemarin?”
“D-d-d-dingin, Pak!!”
Kali ini suara mereka lebih keras, meski gigi tetap bergemeletuk tak karuan.
“Ya jelas! Kita lagi di dataran tinggi yang di kondisi tertentu, suhunya bisa nyaris mendekati titik beku. Dan di atas sana, tentu bisa lebih rendah lagi,” ujarnya.
Pak Anva lalu menunjuk ke arah puncak Gunung Meru. Konon, atap tertinggi di Pulau Jawa ini dijuluki warga setempat sebagai “Tanahnya Para Dewa”.
“Tapi, tujuan kita bukan ke puncak, melainkan hanya sebatas mencari sampel tanaman untuk dibawa pulang dan kita pelajari,” tegasnya.
“Kalian semua masih ingat anggota kelompok dan tugas masing-masing, kan?” lanjut Pak Anva memastikan.
“Masih, Pak!!”
Jawaban kali ini terdengar lebih mantap. Tubuh mereka tampaknya sudah mulai beradaptasi dengan udara dingin sekitar. Suasana mulai kondusif.
Pak Anva pun melanjutkan pengarahan. Ia menekankan tata tertib dan aturan keselamatan: perlengkapan wajib, pengaturan barisan, serta pentingnya menjaga fisik dan kondisi mental selama perjalanan.
“Kalau ada yang merasa sakit, bilang! Jangan malu untuk mengakui, atau kalian tanggung sendiri akibatnya nanti,” katanya, intonasinya sedikit mengancam.
“Jangan buang sampah sembarangan! Selalu jaga kebersihan dan barang bawaan kalian,” lanjutnya, matanya menatap tajam saat ia menekankan pesan itu.
“Dan yang paling penting, utamakan keselamatan! Saling awasi satu sama lain! Kita datang bersama, pulang pun harus demikian. Sampai sini, kalian paham?!” tegasnya.