AIMER - The Night Watcher

Hazsef
Chapter #39

The Pride Breaker

Kecurigaan Basel terhadap cairan putih halus di dasar Danau Kumba membuat ekspresinya mengeras. Buih-buih kecil masih bermunculan di permukaan air, seolah menegaskan bahwa yang barusan mereka lihat bukanlah ilusi yang bisa diabaikan.

“Hah? Itu apaan?” Katong mengernyit.

Basel berjongkok, menatap fenomena itu dengan sorot mata waspada. “Besar kemungkinan… itu triclosan,” jawabnya.

“Hah? Tri-apa?” Katong mengernyit, jelas tak paham.

“Triclosan. Zat antibakteri,” ujar Basel tenang. “Biasanya ada di sabun, sampo, atau cairan pembersih.”

Ia menoleh sebentar ke sekitar danau. Beberapa pendaki lain tampak sedang mencuci tangan, ada yang membilas wajah, bahkan ada yang bersiap mandi.

“Masalahnya ... zat ini gak cuma bunuh bakteri jahat, tapi juga yang baik, dan sisanya bermutasi,” lanjut Basel

“Eh, yang bener, Bas?!” tanya Katong, matanya membulat tak percaya.

“Ya. Triclosan ini kalo bereaksi sama klorin dalam air, bisa membentuk kloroform bersifat karsinogenik, yang gak bagus buat tubuh maupun lingkungan,” Basel membenarkan. Tak lama berselang, sebuah suara menyela.

“A-Apa itu benar, Nak?!”

Basel menoleh. Seorang pria berkumis tipis berdiri tak jauh dari mereka. Wajahnya tampak tegang, namun terasa familier.

“Bapak kan ....” gumamnya, coba mengingat.

“Saya Asep,” jawab pria itu cepat. “Petugas di kawasan ini. Kita pernah ketemu waktu itu, saat saya jemput Pak Anva di danau.”

Lihat selengkapnya