[18 November 2025] Ranu Kumba – 15:12 WIB
Tak terasa, hampir sepertiga hari telah berlalu sejak rombongan mahasiswa Universitas Malren berangkat dari Desa Ranu Pina. Tenda-tenda kini berdiri rapi di sekitar danau. Barang bawaan telah diamankan.
Saat waktu senggang akhirnya tiba, para pendaki muda itu akhirnya memiliki ruang untuk bernapas, memulihkan tenaga, dan sekadar menikmati keheningan alam yang luas.
Ayana yang sebelumnya tampak sangat letih, kini terlihat sedikit lebih baik setelah beristirahat. Warna pucat di wajahnya memang belum sepenuhnya hilang, namun setidaknya napasnya sudah lebih teratur.
Merasa tenaganya cukup pulih, Ayana keluar dari tendanya. Ia berjalan pelan menuju tenda Basel, menggenggam sebuah botol minum di tangannya.
“Umm, Bas … ini punyamu,” katanya agak sungkan. “Tadi aku minum sedikit.”
“Oh, iya. Nggak apa-apa,” jawab Basel santai sambil menerima botol itu. “Makasih udah dianter.”
“Enggak, Bas. Justru aku yang harusnya makasih,” Ayana buru-buru meluruskan.
“Sama-sama,” balas Basel sambil tersenyum hangat.
“Ya udah Bas, kalau gitu aku—” Ayana bermaksud pergi, namun tiba-tiba dicegah Basel.
“Ay, kamu nggak papa kan? Wajahmu kok pucet gitu?” selanya khawatir, sorot matanya mengeras samar.
Ayana refleks mengibaskan tangan. “Nggak kok. Aku cuma kedinginan dikit,” dalihnya. Namun tubuhnya sedikit oleng saat melangkah mundur. Bibirnya tampak kering.
“Perlu aku pinjemin selimut, Ay? Kayaknya kamu lebih butuh deh. Entar malem hawanya lebih nusuk soalnya,” Basel menawarkan.
“Ah, nggak papa kok, Bas. Mungkin aku cuman kedinginan aja,” kelak Ayana panik, berusaha menepis prasangka Basel.
“Yakin?” tanya Basel memastikan.
“Hu-um! Ya udah, aku balik tenda dulu ya. Dah!” jawab Ayana, berusaha terdengar ceria, lalu buru-buru kembali ke tendanya.
Letaknya tidak jauh, tidak juga dekat, hanya berjarak sekitar 20 meter dari tenda Basel. Penataan area memang dipisah berdasarkan gender, demi privasi dan keamanan.
Basel memperhatikan punggung Ayana hingga menghilang di balik deretan tenda. Ada sesuatu yang mengganjal perasaannya, namun ia menepisnya.
“Ah, mungkin cuma kecapekan aja,” pikir Basel. Ia menggeleng pelan, lalu lanjut menata barang bawaan di tendanya.