Usai mendapat kabar buruk, Basel, Della, dan Pak Anva, langsung bergegas menuju tenda area wanita. Sementara Ayana yang kini terbaring lemas tak berdaya, dirawat oleh Diana.
Dalam keadaan setengah sadar, Ayana mulai mengigau, memanggil nama seseorang terus menerus.
“Bas ... Basel ....” panggilnya lirih.
Sontak, Diana pun kelabakan. “Aya?! Kamu nggak papa?” panggilnya khawatir, mengetahui sahabatnya kini mulai siuman.
Sebelumnya, tak peduli sekeras apa Diana memanggil, Ayana masih tak kunjung membuka mata.
Gadis itu tetap meringis—menggigil menahan hawa dingin yang makin menusuk—selagi terus mengigau menyebut nama Basel.
“Basel ... Bas ....” panggilnya lirih dan sedikit bergetar.
Pada momen itu, mata Diana menyipit, alisnya mengerut. Bukan semata karena iba, melainkan heran. Walaupun sudah ada dirinya yang siap siaga di sisinya, hanya satu nama yang terus keluar dari bibir Ayana.
“Aya, kamu ....”
Diana menggumam pelan. Ia akhirnya sadar, bahwa dugaannya yang dulu hanya sebatas lelucon, kini justru terungkap nyata. Namun, belum sempat ia berpikir lebih jauh, tiba-tiba terdengar langkah kaki dan suara bapak-bapak yang familier.
“Eh, mana? Di sini bukan?”
Suara panik itu makin jelas terdengar. Diana pun menoleh. Tak lama setelahnya, pintu tenda terbuka, lalu menampilkan sosok Pak Anva yang panik, diikuti Della dan Basel di belakang.
“Pak Anva?” Diana tersentak.
“Waduh! Teman kalian kenapa ini?” tanyanya heran.