[25 November 2025] Clover Coffee - 9:32 WIB
Sementara berita itu menghantam telak jiwa Basel di ruang utama, Ayana dan Della justru malah sibuk melanjutkan perdebatan mereka yang belum usai tadi di area restroom.
“Aduh ... ngapain kamu ngikut ke sini, Ay? Udah dikasih kesempatan juga,” keluh Della, tampak kecewa, karena Ayana tidak memanfaatkan peluang emasnya untuk berduaan dengan Basel.
“K-kesempatan apa? O-orang aku juga kebelet!” dalih Ayana gugup, suaranya sedikit meninggi tanpa sadar.
“Yaelah, Ay ... bilang aja kalo kamu gugup pas mau nembak Basel, iya kan? Ngaku!” tegas Della dengan tatapan menyelidik.
“A-apaan sih? Emang bener sih kalo aku gugup, tapi siapa bilang aku mau nembak dia?” bantah Ayana, mengelak cepat.
“Ooh ... jadi kamu mau bilang kalo kamu nggak cinta sama Basel, gitu?” Della balik menekan Ayana.
“Hah? K-kalo itu ....”
Ayana seketika terdiam. Mulutnya bergetar, tak mampu merangkai kata. Wajahnya mulai merah merona. Matanya melirik ke sudut lain, seakan tak lagi mampu menatap wajah lawan bicaranya.
Mata Della pun langsung menyipit. Mulut Ayana mungkin bersikeras menolak, namun tubuhnya berkata lain. Ia menghela napas panjang, lalu berkata:
“Ya udah, gini aja, Ay. Gimana kalo kita bikin kesepakatan?” usulnya.
“Kesepakatan?” Ayana bingung.
“Kalo kamu berani nembak Basel sebelum minggu depan, dia milikmu. Tapi kalo sampek minggu depan kamu nggak ngelakuin apa-apa, ntar aku yang bakal nembak dia, gimana?”
Nada Della terdengar ringan, tapi ucapannya cukup untuk membuat jantung Ayana berdegup keras.
“Hah? J-jangan!!” ucap Ayana panik.
“Hah? Apa? Nggak kedengaran!” tegas Della, nadanya ketus. Ia pun menyodorkan telinganya.
“S-sebenarnya ... aku ....”
Ayana tampak gugup. Suaranya seakan tertahan. Wajahnya yang memerah makin terasa hangat, seiring usahanya mengumpulkan keberanian.
“Halo ...? Tuk. Tuk. Tuk. Apa Ayana di sana?” goda Della, makin terang-terangan.
“I-iya. Oke! Aku emang cinta sama Basel. Tapi ya nggak sekarang juga kan nyatainnya? Toh, aku juga lagi PDKT, soalnya kan anaknya nggak peka banget, Del!” keluh Ayana, akhirnya mengaku.
Seringai Della seketika melebar. Alisnya terangkat. Lirikan matanya ringan—seperti menggoda anak kecil—namun dampaknya seakan mampu meruntuhkan harga diri.
“Nah, kan ... ketahuan sekarang. Cieee!!” ujarnya tampak puas.