AIMER - The Night Watcher

Hazsef
Chapter #49

Skandal

Berita menghebohkan yang disiarkan di TV, membuat Ayana terkejut. Ia pun teringat penggalan kalimat Basel sewaktu berbincang-bincang dengan Pak Anva di tepian danau Desa Ranu Pina pada sore itu.

“Dari dulu, saya selalu mikir ... semenjak kepergian ibu, rasanya semangat dari dalam diri saya perlahan memudar.”

“Lalu selepas ayah menyusul, seolah seluruh kebahagiaan di dunia ikut hilang. Karenanya, saya sering mimpi buruk, hampir di tiap waktu tidur.”

“Setiap hari, selalu terasa memuakkan, seolah ada lubang tak terlihat di dada saya. Sempat saya mikir, kalau mati itu rasanya lebih baik.”

Demikian sepenggal memori itu, terlintas di benak Ayana. Kemudian, ia pun membatin.

“Bas ... inikah kehidupan yang kamu maksud waktu itu?”

Wajah Ayana tampak serius. Ekspresinya penuh ketegangan dan sedikit prihatin, hingga menarik perhatian seorang gadis di sebelahnya.

“Aya?” panggil Della yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Ayana.

“Eh?” Ayana menoleh, masih tampak linglung.

“Kamu nggak papa?” tanya Della memastikan, karena untuk sesaat, wajah sahabatnya itu tampak syok, usai melihat saran berita di televisi.

“A-ah iya, nggak papa kok! Kita cari Basel, yuk!” jawab Ayana sekenanya, kekhawatiran tampak jelas di wajahnya.

“Ya udah, yuk!” angguk Della tanpa pikir panjang, lalu mulai bergegas melakukan pencarian.

Sementara itu, Basel—orang yang mereka cari—kini berjalan di tengah kerumunan. Kepalanya tertutup hoodie, menunduk dengan mulut tertutup.

Tanpa suara. Tanpa berkedip. Hanya menatap kosong dan tajam ke depan. Seiring dengan pembacaan berita yang disiarkan di televisi, Basel pun menggumam pelan, berkali-kali menyebut nama seseorang.

Hauzan ...

(“Kalau begitu, kita langsung saja bacakan berita utama kali ini!”)

Hauzan ...

(“... karena keteledoran pihak keamanan terkait, seorang tahanan bernama Anza Arman Chinmay, harus meregang nyawa.”)

Hauzan ...

(“Ia mengalami luka tusuk di bagian dada oleh seorang pembunuh berantai yang telah didakwa hukuman mati.”)

... pasti ...

(“Hauzan Galih Feorodra.”)

... akan kubunuh kau!!

Lihat selengkapnya