Pertarungan sengit sebelumnya, berakhir membuat Basel bertekuk lutut. Dada kirinya tertembak. Situasi jadi semakin runyam tak terkendali.
Suara tembakan disertai benda-benda jatuh memecah keramaian kota. Tiap kali letupan pistol menggema, orang-orang refleks membungkus sambil menengok ke atas, sebelum berlarian tak tentu arah demi mencari tempat berlindung.
Kekacauan pun tak terhindarkan. Kepanikan massal melanda jantung kehidupan di area pusat perbelanjaan, bagaikan segerombolan lebah yang sarangnya terusik.
Pada momen itu, Hauzan berjalan santai menghampiri Basel yang masih terduduk di trotoar. Ia kembali mengacungkan pistolnya, menarik pelatuknya, dan bersiap menembak kepala Basel.
Dari jauh, Ayana terpaku. Matanya menangkap pemandangan sunyi di tengah kekacauan itu. Jantungnya serasa tertekan, napasnya tersendat, keringat dingin mulai bercucuran.
Sosok pujaan hatinya—yang baru saja ia tertawakan, ia cubit, dan ia genggam dengan penuh rasa syukur dan hangat—akan ditembak mati oleh orang asing.
Ayana berteriak histeris, namun suaranya tidak mau keluar, air matanyalah yang menggantikan perannya. Tubuhnya seakan merespons lebih cepat dari pikirannya. Ia bangkit, berlari, berusaha menggapai Basel.
Namun dalam suasana hingar bingar yang mencekam itu, orang-orang yang berlarian panik justru menghalangi jalannya. Perasaan Ayana pun berkecamuk.
“Kenapa? Saat akhirnya kami makin dekat. Saat akhirnya senyumnya mulai merekah. Kenapa ... jadi begini?” batinnya.
Hati gadis itu seakan teriris—dipenuhi rasa sesal, cemas, dan takut kehilangan yang begitu pekat—hingga nyaris melumpuhkannya. Namun Ayana tak mau berhenti. Di tiap langkah yang ia ambil, tekadnya tumbuh makin kuat.
“Bas—!”
Namun semesta seakan menjawab: itu saja tidak cukup. Dorongan manusia yang berlarian kembali menjatuhkannya ke aspal. Lututnya terasa perih. Telapak tangannya memar. Tapi pandangannya tak pernah lepas dari Basel.
Di sisi lain, Hauzan bersiap melepaskan tembakan. Namun tak disangka, ternyata pelurunya habis. Hauzan pun kesal, lalu—tanpa pikir panjang—segera membuang senjatanya entah ke mana, sebelum berbalik kabur saat melihat beberapa pria dewasa—berjaket kulit dan kacamata hitam—menunjuk ke arahnya.
“Tch!”
Hauzan mendecakkan lidah. Aksinya barusan tampaknya telah menarik perhatian sejumlah intel kepolisian yang mengejarnya. Ia kemudian berbalik dan melanjutkan pelariannya. Kepanikan massal memudahkannya untuk membaur dengan warga sekitar.
Di sisi lain, Basel tertinggal. Tampaknya, Hauzan tak menganggap pemuda itu cukup penting hingga layak mempertaruhkan waktu berharganya.
Napas pemuda itu seakan tertahan. Ia masih syok. Dan saat sensasi itu mulai mereda, barulah ia menyadari sesuatu yang ganjil.
Rasa nyeri memang ada, namun tak sesakit yang ia bayangkan. Tangannya gemetar saat meraba dadanya. Di balik jaketnya, sesuatu menahan tembusan peluru itu.
Perlahan, pandangannya jatuh pada ponsel yang terselip di saku dada. Casing logam itu retak. Peluru kaliber 9 mm tertancap kuat di sana, hanya menembus sekitar 1 mm sebelum akhirnya berhenti.
Basel pun terdiam. Ia tak menyangka, nyawanya terselamatkan berkat benda kecil yang iseng ia beli bersama Ayana beberapa jam lalu. Ia bersyukur, namun amarah kembali menguasai.
Semua kenangan—kematian ayahnya, kematian ibunya, serta wajah Hauzan yang kabur di sore itu—menyesak masuk, memantik bara yang tak pernah benar-benar padam.
Basel menggenggam ponselnya erat, lalu melemparkannya jauh ke aspal. Kemudian, ia bangkit dan berlari sekuat tenaga mengejar Hauzan.