Dari terang menjadi redup, sebelum kegelapan merenggut semuanya menjadi sekeruh tinta hitam. Entah berapa lama waktu terlewat, namun konsep eternalisme seakan tak lagi relevan bagiku.
Pada momen itulah, cahaya putih samar yang bergerak tanpa suara muncul di atasku. Suara isak tangis seorang gadis—yang tak henti-hentinya memanggil histeris namaku—terdengar di sela-selanya.
Nada lembut nan lirihnya seakan menyayat hati, namun anehnya serasa familier. Ini … adalah suara sahabat baikku: Ayana. Entah apa yang membuatnya sampai seperti itu.
Ingin sekali kubalas kata-katanya, ingin sekali kulihat wajahnya, agar aku bisa menenangkannya dan berkata: “Aku baik-baik saja.”
Namun—jangankan bicara—aku tak bisa bergerak, bahkan walau sekadar menjentikkan seujung jari. Tak ada pilihan selain diam dan pasrah menerima keadaan.
Saat suara tersebut berangsur menghilang, sekumpulan rasi cahaya berbentuk spiral—disertai suara-suara lain yang terdengar seperti logam—pun muncul.
Kini kutahu, di mana tepatnya aku berada. Meski pikiranku sadar, namun ragaku berkata sebaliknya. Aku tahu semua itu … tapi tetap tak bisa berbuat apa pun.
Ah … bikin kesal saja. Seakan aku adalah makhluk yang tak berguna.
Ketika segala pikiran negatif mulai mengeruhkan hatiku, tiba-tiba kegelapan kembali menyergap. Kali ini, indera pendengaranku direnggut.
Aku makin tenggelam dalam lautan ketidakpastian. Terbenam dalam mimpi panjang yang—jelas—tidak menyenangkan.
Tak peduli serapat apa matamu terpejam, jerit pilu yang dipenuhi rasa sakit dan ketakutan mendalam, akan selalu membayangi para korban ledakan Hauzan. Mengukir luka yang tak pernah benar-benar hilang.
Pada suatu ketika, sebuah cahaya muncul di penghujung titik horizon—makin lama makin menyilaukan—yang perlahan menampakan sosok bersahaja. Ia berdiri di tengah-tengah cahaya itu sambil tersenyum ke arahku.
“Ayah ...?”
Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku hanya bisa diam, menatap kagum dirinya walau terbesit rasa tidak percaya yang kentara.
Tak lama, ayah mengulurkan tangannya, seolah ingin mengajakku pergi ke suatu tempat. Tanpa pikir panjang, kuraih uluran tangan itu.
Dalam sekejap, semuanya berubah menjadi cahaya putih yang menyilaukan, hingga memaksaku menutup mata rapat-rapat.
Saat kucoba membukanya, cahaya itu perlahan berubah menjadi sebuah ruangan dengan banyak lampu putih, dikelilingi orang-orang bermasker yang berpakaian serba hijau. Setrika kejut kecil digenggam di tangannya.
Aku terpaku sejenak, sebelum menyadari bahwa itu adalah ruang operasi. Tak lama, helaan napas lega berembus serempak dari wajah mereka yang dipenuhi keringat dingin, seolah baru saja melewati masa-masa kritis.