AIMER - The Night Watcher

Hazsef
Chapter #62

Panggung Sandiwara

Adegan mengejutkan yang terjadi pasca Basel siuman, sontak membuat semua orang di ruangan itu membisu. Bagaimana tidak? Kemungkinan terburuk yang pernah disinggung oleh Dokter Filozeki—potensi Basel terkena amnesia—kini justru jadi kenyataan pahit yang memprihatinkan.

“Mbak ini ... siapa ya?” tanya Basel pelan, seraya menatap Ayana dengan wajah polos.

“Eh?” Ayana pun terkejut. “Kok kamu ngomong kayak—” namun tiba-tiba kalimatnya terhenti. Ia teringat jelas peringatan Dokter Filozeki soal potensi yang timbul akibat gegar otak Basel.

Saat gadis itu kembali menatap wajah Basel yang polos, hatinya serasa teriris, menyadari bahwa pujaan hatinya bakal mengalami hal yang paling ditakutkannya.

“Bas, jangan-jangan ... kamu—”

Air mata seketika menetes deras membasahi wajah Ayana.

“Eh? Kok ... Mbaknya ... nangis?” tanya Basel lirih, nada suaranya seakan dibuat polos.

“Ah, maaf! Kayaknya saya salah orang,” jawab Ayana sambil tersenyum kecut. Ia buru-buru mengusap air matanya. “Permisi!” ucapnya singkat, lalu berpaling keluar ruangan. Langkah kakinya terasa berat, seolah menyuarakan isi hatinya.

“Eh, Mbak?” sapa Basel lagi, namun ia tak coba menghentikan kepergian Ayana.

Pada hari itu, Ayana menangis tersedu-sedu di luar ruangan. Della, Diana dan Shinta pun menyusul, menghibur dan menguatkan hati sahabatnya. Dari dalam, Basel bisa mendengar isak tangis Ayana yang pilu, seolah setiap tetes air mata itu adalah belati yang menusuknya.

Sejujurnya, aku merasa bersalah. Tak seharusnya orang sebaik dia … menerima perlakuan seperti itu. Tapi, aku sudah memutuskan. Ya, inilah yang terbaik. Dengan begini, aku tak perlu mengkhawatirkan hal lain.

Masalahnya sekarang ... ponselku sudah rusak dan menghilang entah ke mana, usai kubuang begitu saja karena kesal saat mengejar bajingan itu.

Aku perlu menyusun rencana baru yang lebih efektif, lantaran variasi gerak dan senjataku masih jauh dari kata sempurna, bahkan sangat sederhana dan terbatas.

Tapi pertama-tama … aku perlu menipu semua orang agar mereka percaya, bahwa aku hilang ingatan, tidak tahu apa-apa. Dengan begitu, aku bisa kembali bergerak bebas seperti dulu, tanpa harus menyeret mereka ke dalam bahaya yang mengancam.

Maka, dimulailah sandiwara itu

Hari-hari berikutnya di ruang perawatan khusus menjadi panggung bagi Basel. Pada tiap tarikan napas dan ekspresi polos yang ia buat, makin memperkuat keyakinan orang-orang di sekitarnya bahwa ingatannya benar-benar telah lenyap.

 

[19 Desember 2025] Ruang Inap Basel - 9:22 WIB

Dalam beberapa hari terakhir, hasil pemeriksaan kesehatan Basel pasca siuman, menunjukkan kemajuan yang pesat. Seolah tubuhnya turut mendukung sandiwara besar yang ia mainkan. Kini, ia sudah bisa duduk sendiri, walau gerakannya masih terbatas.

Di sisi lain, hati Ayana terpukul—menerima fakta pujaan hatinya terkena amnesia—namun tetap setia menemani Basel di tiap waktu senggangnya.

Pada suatu ketika, mulai timbul kegelisahan di hati Basel. Ia perlu memastikan sesuatu krusial yang berpotensi menganggu atau justru memuluskan alur rencananya di masa mendatang.

“Eh, Bi ... boleh tanya sesuatu nggak?” tanyanya, menatap Bibi Lara yang sedang membereskan sisa alat makan di atas meja nakas di samping kasur pasien.

“Boleh. Mau tanya apa, Bas?” balas Bibi Lara lembut.

“Umm, kira-kira ... Bibi liat HP Basel nggak?” tanyanya basa-basi.

Bibi Lara langsung menoleh. “Hah? HP? Nggak tuh, tapi ...” jawabnya tertahan.

“Tapi ...?” ulang Basel dengan wajah polos.

“Perasaan kamu lagi hilang ingatan deh. Sama keluarga dan teman sendiri aja lupa. Tapi kok kamu bisa inget kalo punya HP?” sambung Bibi Lara dengan tatapan menyelidik.

“Eh? Itu—Basel liat orang-orang pada megang HP semua, jadi ya ... penasaran aja, gitu. Apa dulu Basel juga punya?” dalihnya cepat.

Lihat selengkapnya