AIMER - The Night Watcher

Hazsef
Chapter #69

Interogasi

[5 Januari 2026] Bangunan Tua – 15:35 WIB

Jauh dari hiruk pikuk Kota Malren, sebuah bangunan tua menjadi saksi bisu sekumpulan orang misterius yang transaksi gelap, segelap hati mereka yang kontras dengan pikiran yang penuh perhitungan.

Udara pengap dan bau debu bercampur aroma aneh memenuhi ruangan, menambah kesan suram pada transaksi ilegal yang akan berlangsung itu.

“Jadi, apa barangnya siap?”

Seorang pria bertubuh gempal bernama DD—Dodi Demo—bertanya dengan suara serak. Ia maju dua langkah. Tatapannya tajam.

“Tentu! Sesuai kesepakatan!”

Pengedar berinisial AD—Amkrun Durta—menjawab. Seringai tipis penuh kepuasan terukir di bibirnya.

“Bagus! Kalau begitu, sesuai perjanjian. Rp 100.000.000, silakan!”

DD mengangguk pelan, lalu mendorong sebuah koper hitam mengilat berisi tumpukan uang tunai ke arah AD di atas meja yang usang.

AD segera membuka koper, matanya berbinar melihat lembaran-lembaran rupiah yang tertata rapi. Jari-jemarinya dengan cepat menghitung dan memeriksa keasliannya.

“Oke, semuanya pas!” serunya sambil tersenyum puas, lalu menutup koper itu dengan cepat, seolah takut ada yang melihat.

“Senang berbisnis dengan Anda, tuan-tuan!” ucap DD sembari mengulurkan tangan, menjabat erat tangan AD dengan senyum licik.

“Beritahu lagi kalau ada barang bagus,” lanjut DD tampak senang, matanya berbinar penuh minat, menanti peluang yang lebih besar.

“Oh iya, ngomong-ngomong soal barang bagus ... kami punya satu di sini!”

Suara AD merendah penuh misteri. Ia pun menunjuk ke belakang, dua pria berbadan kekar menjaga seorang gadis yang meringkuk di sudut ruangan. Tangannya terikat di belakang, mulutnya dilakban rapat, matanya memancarkan ketakutan yang mendalam.

DD terdiam sejenak. Matanya turun perlahan, lalu berhenti sejenak. Senyum kecil perlahan muncul. Bukan hanya rasa kagum, melainkan menghitung.

“Boleh juga. Siapa dia?” tanya DD, nada suaranya mengancam, pandangannya tak lepas dari Ayana.

“Entahlah, kami hampir menabraknya di tengah jalan. Dan kebetulan, dia melihat barang kami di dalam mobil. Karena panik, kami pun terpaksa membawanya,” ungkap AD.

“Jadi begitu ...”

“Bagaimana, apa Anda tertarik?”

“Ya. Tanpa ragu, akan kubayar dua kali lipat dari transaksi kita tadi. Bagaimana?” tawar DD, matanya berkilat gembira, alisnya naik, mengetahui tawarannya akan sulit ditolak.

“Wah! Yang benar?!”

Mata AD langsung membulat sempurna. Raut wajahnya menunjukkan keserakahan yang tak terbendung. Godaan uang yang besar, langsung membuatnya melupakan etika dasar sebagai manusia.

“Baik. Kalau begitu, dia milikmu, Tuan!” serunya antusias.

DD mendekati Ayana, tangannya terulur hendak menyentuh wajah Ayana yang pucat. Matanya berbinar-binar penuh kegilaan, terpesona akan kecantikan Ayana yang tak berdaya.

Lihat selengkapnya