AIMER - The Night Watcher

Hazsef
Chapter #33

Undian

Perdebatan untuk menentukan nama-nama anggota kelompok karyawisata masih terus berlanjut. Setelah menyetujui usulan Pak Anva yang dinilai cukup memuaskan, kini agenda pemilihan anggota kelompok pun segera dilakukan.

Pertama-tama, nama masing-masing kelompok ditulis pada sobekan kertas kecil, lalu digulung dan dikumpulkan di meja Pak Anva. Ada 6 salinan kertas yang bertuliskan angka romawi. Angka apa pun yang tertera pada gulungan kertas yang diambil, maka itu akan menjadi kelompok resmi si pengambil.

Satu per satu para partisipan yang hadir telah menentukan pilihannya. Sementara Ayana, selaku ketua kelas, diberi tugas untuk menulis hasil undiannya di papan whiteboard.

Sekitar 15 menit berselang, daftar anggota kelompok yang kosong, kini mulai terisi dengan nama-nama baru, sesuai isi gulungan kertas yang mereka ambil. Setelahnya, Pak Anva pun mengambil alih, menyisakan dua nama yang belum terdaftar di kelompok manapun.

“Baiklah! Kalau begitu, kalian berdua ... silakan ambil sisanya. Lalu buka dan sebut nama kelompok kalian. Biar saya yang tulis di papan. Basel?” tegas Pak Anva, lalu menanyakan isi yang tertera pada gulungan kertas kecil Basel.

“Dua, Pak!” jawab Basel singkat.

“Ayana?” Pak Anva beralih ke Ayana.

Gadis itu terlihat gugup, berharap agar nomor yang tertera di dalam gulungan kertas terakhir, menunjukkan angka yang sama seperti Basel. Namun saat dibuka, Ayana pun terkejut, lantaran kenyataan ternyata tak sejalan dengan apa yang ia harapkan.

“L-lima, Pak ....”

Ayana menjawab, nadanya agak lesu. Ia kecewa dengan hasil undian yang baru saja didapatnya. Jelas sekali ia ingin bisa satu kelompok dengan Basel, hanya saja ia belum berani mengungkapkan.

“Lima ya? Hmm … kok banyakan ceweknya ini? Anggotanya juga cuman 3 ... si Della, Diana, Shinta, tambah satu lagi, Ayana, jadinya 4. Terus ....”

Pak Anva tampak bingung. Pasalnya, anggota kelompok Ayana semuanya hanya berisi wanita. Selain itu, jumlahnya pun kurang memadai, jika dibandingkan dengan anggota kelompok lain yang masing-masing berisi 5 orang.

Tampaknya, ada sedikit kesalahan teknis, sehingga ada yang kelebihan 1 dan ada yang kekurangan 1. Setelah memikirkannya matang-matang, Pak Anva akhirnya memutuskan untuk mengambil jatah kuota anggota kelompok lain. Lalu, dipilihlah Basel, sebagai relawan yang akan dipindah ke kelompok 5 yang baru saja dimasuki Ayana.

“Okelah! Gini aja Bas, berhubung jumlah siswa di kelas ini cuma ada 30 orang, dan kelompok 2 kuotanya kelebihan 1, kamu masuk kelompok 5 ya? Biar adil. Kasian mereka, anggotanya cuma 4 orang, cewek semua lagi. Gimana?” Pak Anva menawarkan.

Keputusan ini tentu bukan tanpa sebab. Pasalnya, mendaki gunung jelas membutuhkan fisik dan persiapan yang memadai. Satu grup amatir yang seluruhnya beranggotakan wanita, pastinya sedikit mengkhawatirkan.

Lihat selengkapnya