[26 November 2025] Kantor Kepolisian Setempat - 18:15 WIB
Insiden ledakan yang menebar teror di sekitar area pusat perbelanjaan, kini mengalami babak baru. Pemberitaan di berbagai media yang membahas peristiwa memilukan itu, kini telah sampai di meja Inspektur Ebert.
“Jadi ... inikah pistol yang dijatuhkan Hauzan?” tanyanya.
“Daripada ‘dijatuhkan’, mungkin lebih tepat jika disebut ... ‘dibuang’,” sanggah Detektif Aftar mengoreksi.
Alis Inspektur Ebert pun naik. “Dibuang? Kenapa?” herannya.
“Entahlah. Tapi sepertinya, dia kehabisan peluru,” jawab Detektif Aftar tampak serius, sementara tangannya mengusap dagu.
“Kehabisan peluru? Kalau begitu, tinggal diisi saja kan?” tanya Inspektur Ebert retoris.
“Tidak sesederhana itu, Pak. Bagaimana kalau saya bilang ... dia tidak punya amunisi?” ucap Detektif Aftar mengajak berpikir.
Alis Inspektur Ebert naik. “Tidak punya amunisi? Bagaimana Anda bisa membuat pernyataan seyakin itu?” tanyanya heran.
Detektif Aftar menghela napas sejenak, lalu mengangguk pelan. “Baik. Kalau begitu, mari kita perhatikan laporan berikut dengan seksama!” ujarnya sambil menunjuk ke berkas laporan baru di meja kerja Inspektur Ebert.
“Menurut informasi yang tertera, ini adalah senjata api yang diduga milik Hauzan. Ditemukan sekitar 100 meter dari area ledakan di lokasi kejadian,” terangnya.
Detektif Aftar kemudian mengarahkan fokus ke barang bukti—sebuah pistol Glock gen-1 type-17 hitam berbahan dasar polymer ringan—yang dibungkus plastik.
“Pistol semi otomatis dengan recoil pendek ini dikembangkan di Inggris mulai tahun 1990. Magazen box-nya berkapasitas 15 butir peluru kaliber 9mm. Biasanya digunakan oleh satuan khusus kepolisian yang berpangkat bintara atau di atasnya.”
Detektif Aftar mengakhiri penjelasannya, lalu menatap serius Inspektur Ebert.
“Oke, sejauh ini saya mengerti. Lalu?” tanya inspektur Ebert.
“Bukankah ini aneh? Bagaimana mungkin penjahat kelas atas sepertinya bisa membawa senjata satuan khusus yang tak sembarang orang bisa memilikinya?” jawab Detektif Aftar penuh teka-teki.
“Jadi ... dia mencurinya?” duga Inspektur Ebert agak ragu.
“Ya. Atau lebih tepatnya ... merampoknya!” ralat Detektif Aftar sambil menyodorkan sebuah headline berita di koran yang terbit beberapa hari lalu. Mata Inspektur Ebert pun membulat, menyaksikan judul berita yang dicetak tebal pada surat kabar.
── “PEMBUNUH BERANTAI TELAH KEMBALI!!” ──
Bom tak dikenal telah meledakkan salah satu pos penjagaan di dekat perbatasan Kota Lama. Diketahui 5 orang petugas menjadi korban insiden ini. Buronan terdakwa hukuman mati atas kasus pembunuhan dan perampokan sadis 3 tahun lalu, Hauzan G. Feorodra, menjadi dalang dibalik penyerangan yang terjadi sekitar pukul 20:30 waktu setempat (26/11/25).
“Pembunuhan? Ah tidak! Bahkan perampokan juga?!” mata Inspektur Ebert membulat sempurna, alisnya naik, kepalanya makin condong ke koran yang ia baca.