AIMER - The Night Watcher

Hazsef
Chapter #53

Pertikaian Sengit

[26 November 2025] Toko Roti - 13:15 WIB

Usai mengunjungi toko elektronik, Ayana dan Basel lanjut mengambil kue ultah Diana—kue tart brownies special dengan krim vanila dan topping stroberi—yang sebelumnya telah ia pesan bersama Della di toko roti seberang jalan dari Pusat Perbelanjaan.

“Selamat siang! Selamat datang di toko kami. Ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang pelayan bernama Bu Sari dengan senyum ramah khasnya.

“Ini Bu. Saya mau ngambil pesanan kue yang kemarin,” jawab Ayana sopan.

“Bawa notanya, Mbak?” tanya Bu Sari.

“Oh, iya! Ini, Bu.” Ayana segera menyerahkan nota pemesanan.

“Atas nama Mbak Ayana?” tanya Bu Sari memastikan.

“Iya, saya sendiri.”

“Satu kue tart brownies special dengan krim vanila dan ekstra topping stroberi?” ucap Bu Sari membacakan detail pesanan itu.

“Iya. Betul, Bu!” angguk Ayana antusias.

“Baik. Ditunggu sebentar ya, Mbak.” Bu Sari pun berlalu ke dalam.

“Iya, Bu.”

Setelah itu, mata Ayana menyapu seisi toko. Ia melihat varian kue-kue lain yang dipamerkan di etalase. Sementara di sampingnya, Basel justru sibuk memutar-mutar ponsel.

Mata pemuda itu menelusuri sudut casing baru itu, jemarinya mengetuk-ngetuk ringan permukaannya, seolah masih tak percaya benda sekecil itu terasa begitu kokoh di tangannya.

Sedetik kemudian ….

Tokk! 

Suara itu terdengar nyaring. Ayana refleks meringis. Tiba-tiba saja Basel menjitak kepalanya dengan casing HP barunya.

“Aduh?! Apaan sih, Bas?!” keluhnya sambil memegangi kepala.

Basel menoleh santai. “Ah, maaf. Cuma ngetes kualitasnya doang.”

“Ngetes apaan?! Sakit tau!” Ayana mulai sewot.

“Tenang. Bentar lagi juga ilang.” Basel nyengir kecil.

“Tenang, ntar sakitnya juga ilang kok! Hehe,” balas Basel santai.

Ayana mendengus. “Ish—lagian napa sih kamu pake ngetes-ngetes segala?!”

“Abisnya … ini benda unik banget lho!” Basel mengangkat ponselnya sedikit.

“Unik apanya?” Ayana balik bertanya.

“Bayangin aja! Sekelas pelindung hape, bahannya udah kayak kevlar penjinak bom. Unik, kan?” terang Basel, senyumnya lebar.

“Bodo amat!”

Ayana tak peduli. Ia hanya ingin keadilan. Sedetik kemudian, ia mengeluarkan “HP unik”-nya, lalu balas menjitak kepala Basel. Tak hanya sekali, namun berkali-kali.

“Nih! Rasain nih! Unik nggak? Heh?!” ucapnya gemas.

“Aduduh—sakit, Ay! Ampun!”

Basel menutup kepalanya, setengah tertawa setengah meringis.

Beberapa detik kemudian, aksi itu berhenti sendiri, berubah jadi tawa kecil yang menggantung canggung di udara. Dari jauh, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang bercanda mesra.

Lihat selengkapnya