AIMER - The Night Watcher

Hazsef
Chapter #57

Dorongan Kecil

[26 November 2025] Kantor Kepolisian Setempat - 19:55 WIB

Berita insiden ledakan Hauzan masih menghantui seisi Kota Malren. Suasana di kantor polisi masih dipenuhi kesibukan.

Di ruang kerja Inspektur Ebert, anak buah Kapten Dandy datang dan menyerahkan selembar dokumen yang dibungkus map kertas berwarna coklat.

“Ini alamat Rumah Sakit beserta data pasien yang Anda minta, Pak!”

“Bagus! Kalau begitu, saya akan mampir ke sana besok!” balas Detektif Aftar antusias, hingga memunculkan tanda tanya di benak seseorang.

“Loh? Tumben Anda bersemangat sekali, Detektif? Apakah ulah Hauzan ini telah membuat Anda tergerak untuk terjun langsung ke lapangan?” tanya Inspektur Ebert penasaran.

“Ada yang mengganjal pikiran saya. Dan saya ingin pergi untuk memastikan sesuatu,” jawab Detektif Aftar dengan nada misterius.

“Memastikan sesuatu?” ulang Inspektur Ebert, alisnya naik.

“Akan saya kabari begitu saya menemukan jawabannya. Kalau begitu, saya permisi!” pamit Detektif Aftar, lalu bergegas keluar ruangan.

“Ya. Semoga berhasil!” balas Inspektur Ebert singkat.

 

[26 November 2025] Rumah Sakit Umum - 19:30 WIB

Usai kedatangan Paman Banin dan Bibi Lara, suasana di kamar inap Basel mendadak ramai. Perbincangan hangat antara mereka dan para gadis tak terelakkan.

“Jadi, apa kalian yang mengantar keponakan saya sampai ke tempat ini?” tanya Bibi Lara.

“Oh, bukan kami, Te! Tapi temen saya yang satu ini,” Della menggeleng, lalu menunjuk ke arah seorang gadis yang tampak segan dan malu-malu.

“Oh, jadi kamu ya ...” Bibi Lara mengangguk pelan. Matanya memindai sosok gadis itu dari bawah ke atas. “Lumayan.”

Sontak, Paman Banin menoleh dengan mata membulat. “Lah? Kamu kenal sama dia?”

“Dia orang pertama yang tak liat di sini. Ah, sebentar! Kalau tidak salah namanya …” Bibi Lara menyipitkan mata, coba mengingat-ingat.

Ayana, Te. Saya Ayana,” sambung Ayana lirih.

“Ah, iya! Ayana. Saya pernah denger soal kamu dari Bi Inah,” ungkap Bibi Lara mantap.

“I-iya, Te. Dulu saya pernah diajak Basel main ke apotek,” angguk Ayana.

“Ah, iya juga. Bi Inah bilang, kalian cukup mesra. Apa mungkin ... kamu pacarnya?” tegas Bibi Lara, tanpa basa-basi.

“Eh? A-ah, nggak, saya bukan pacarnya kok, Te! Hubungan kami masih belum sampek ke situ. Eh—?” Ayana spontan menjawab, nadanya sedikit gugup. Di akhir, ia tiba-tiba menutup mulutnya rapat-rapat. Wajahnya memerah.

Belum? Oh, masih PDKT rupanya,” Bibi Lara mengangguk paham.

Lihat selengkapnya