AIMER - The Night Watcher

Hazsef
Chapter #60

Benang Merah

[28 November 2025] Kediaman Detektif Aftar - 02:00 WIB

Malam itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Namun ruang kerja Detektif Aftar masih berselimutkan cahaya monitor dan lampu meja, menyinari tumpukan berkas-berkas laporan yang telah dipilahnya dengan hati-hati.

Aroma kopi hitam yang menguap dari cangkir di sampingnya, tak mampu mengusir kelelahan dari matanya yang memerah dan lingkar gelap yang tak mau pergi. Di luar jendela, Kota Malren sudah terlelap dalam keheningan yang menenangkan, kontras dengan gemuruh pikiran Aftar yang tak kunjung padam.

Wawancaranya dengan Ayana kemarin—kesaksiannya tentang Basel mengejar Hauzan—masih terngiang jelas di kepalanya. Mata gadis itu … sarat akan ketakutan dan keputusasaan, namun juga memancarkan tekad yang aneh.

Sepanjang hari, Detektif Aftar menenggelamkan diri dalam setiap probabilitas. Terlalu banyak keanehan dan detail yang tak biasa untuk sebuah kasus yang luar biasa. Ia merasa kalau Alphali Basel Dharma—remaja yang kini terbaring koma—bukan hanya sekadar korban pasif.

Catatan kriminal Hauzan—buronan kelas atas yang nyaris tak tersentuh—kini menjadi gumpalan benang kusut yang tak terurai sempurna, bahkan di tangan seorang Komisaris Polisi berpengalaman.

Laporan terbaru menyebut, bahwa ledakan aksi teror Hauzan menyebabkan banyak korban berjatuhan, bergelimpangan di sekitar radius ledakan. Beberapa gedung dan fasilitas umum juga mengalami kerusakan parah. 

Ledakan sekuat itu ... cukup untuk menewaskan orang-orang sekitar. Beberapa di antaranya, bahkan tak dapat dikenali lagi.

Otot-otot di jemari Detektif Aftar mengejang, selagi ia memijat-mijat pelipisnya yang berdenyut. Matanya menatap tajam layar yang menampilkan citra TKP: bagaimana satu orang bisa memorak porandakan satu kota dalam waktu satu hari. 

Tapi Basel, anak itu ... seorang remaja biasa tanpa pelatihan militer, tanpa perlindungan memadai, hanya seorang pejalan kaki yang kebetulan lewat, bisa selamat?

Anomali ini tak henti-hentinya mengusik naluri detektif seorang Aftar. Satu keyakinan kecil muncul di antara berjuta keraguannya: ada sesuatu yang tidak beres.

Ia membuka cuplikan video-video amatir yang tersebar luas di internet. Kebanyakan rekaman itu kacau—banyak bergetar, buram, penuh jerit panik—dan terdistorsi oleh kepulan asap yang mengaburkan pandangan.

 Ini bukan sekadar keberuntungan. Pasti … ada semacam petunjuk logis di sana.

Detektif Aftar memutar ulang setiap klip. Ia coba menangkap detail sekecil apa pun dari sudut pandang yang berbeda: bayangan yang lewat, pantulan cahaya aneh, hingga gerakan refleks yang tidak biasa.

Ia bahkan membandingkan pola kerusakan di berbagai kendaraan yang melintas di lokasi dengan posisi korban, mencari pola yang mungkin terlewat.

Tak puas dengan temuannya itu, mata Detektif Aftar beralih ke perspektif lain—sebuah mata yang merekam tanpa emosi, tanpa panik, tanpa distorsi—yang tercantum di daftar inventaris bukti digital: rekaman CCTV

Ia memutar rekaman video kamera pengawas di persimpangan jalan terdekat. Meski jaraknya agak jauh dan resolusinya tidak sempurna, namun Detektif Aftar akhirnya dapat melihat kejadian itu dengan lebih jelas.

Lihat selengkapnya