[16 November 2025] Apotek Lara Kencana – 13:24 WIB
Tak terasa, sudah lewat 1 jam sejak Basel berpamitan pergi berbelanja, meninggalkan Ayana dan Bi Inah di apotek. Sampai pada suatu ketika, terdengarlah suara mesin motor yang diparkir tepat di depan apotek.
“Ah, akhirnya dateng juga,” batin Ayana lega. Ya, dan benar saja. Ternyata itu adalah Basel yang berjalan santai memasuki apotek. Ia bertukar salam pada Bi Inah dan Ayana yang langsung menatapnya curiga.
Pemuda itu menenteng 1 kantong plastik besar berisi aneka jajanan yang “baru saja” ia beli dari minimarket terdekat. Namun bukan itu yang menjadi fokus mereka, melainkan karena Basel masih masker hitam. Padahal, ia hampir tak pernah mengenakannya di dalam ruangan.
“Mampir ke minimarket kok lama amat Bas? Emangnya beli apa aja kamu?” tanya Bi Inah heran, tatapannya menyelidik.
“Ah, ini Bi, tadi Basel ketemu temen lawas di jalan, jadinya ya ... gitu. Nimbrung bentar, hehe.”
Basel menjawab sekenanya. Ia tak ingin memperpanjang percakapan yang dapat mengundang kecurigaan, sehingga ia pun berpura-pura menjadi sosok bocah nakal yang tak kenal waktu saat sedang bermain.
Bi Inah pun menggelengkan kepala, lalu mulai mengomel, “Ya ampun, kamu ini gimana sih, Bas? Bi Inah jadi kasian nih sama Ayana. Kan kesepian dia,” ucapnya prihatin.
“I-iya iya, maaf! Ini camilannya, Bi. Sekalian ini ada es krimnya juga,” Basel pun mengalihkan pembicaraan, coba meredam suasana. Untungnya, cara itu berhasil. Walaupun masih mendapat teguran dari Bi Inah.
“Hmm, ya udah ... lain kali jangan diulangi ya?” tegasnya.
“Iya, Bi.” Angguk Basel pelan, lalu menyerahkan sekantong plastik besar berisi aneka jajanan itu ke Ayana.
“Makasih ya, Bas,” ucap Ayana tulus sembari menerima kantong plastik itu. Basel pun mengangguk. Meski mengenakan masker, namun ekspresi senyumnya masih kentara.
“Iya, sama-sama. Ya udah, aku tak ganti baju dulu ya. Gerah soalnya,” dalih Basel cepat. Karena pakaian yang ia kenakan, memang tampak berantakan dan penuh debu.
“Oh iya, Bas!” balas Bi Inah mempersilakan.
Setelahnya, ia pun melangkah ke ruang santai dengan agak terburu. Ruangan itu cukup luas, memiliki tempat tidur tanpa dipan yang biasanya digunakan beristirahat. Jaraknya sekitar 5 meter di belakang meja kasir, hanya terhalang tembok saja.
Kemudian, waktu pun berlalu. Detik demi detik, menit demi menit telah terlewati, semenjak Basel pamit dengan alasan ganti baju. Namun, ia tak kunjung muncul.
Merasa ada yang tidak beres, Ayana lalu berniat menyusul Basel sambil bertanya-tanya dalam hati: “Kenapa Basel tiba-tiba bertingkah aneh? Apa dia sembunyiin sesuatu?” pikirnya tak karuan.
Kecurigaan itu perlahan menumpuk, lalu berubah menjadi kekhawatiran. Hati gadis itu pun mulai gelisah. Rasa penasarannya kian tak terbendung. Tak lama, ia bangkit, lalu berdiri di samping Bi Inah.
“Bi, Aya ijin ke belakang bentar ya?” pamit Ayana dengan sopan.
“Oh, iya, Ay!” jawab Bi Inah singkat.
Setelahnya, Ayana segera pergi mencari Basel di ruang santai. Namun, tak ada siapa pun di sana, selain 2 buah tas yang ia titipkan sewaktu baru sampai di apotek bersama Basel.
“Lah? Kok nggak ada?”