AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #2

Setelah Mamak Sendiri

PROlog

 

...Yang penting berusaha dulu,

Urusan hasil mah belakangan...

 

Suara ketukan sepatu-sepatu pantofel menggema memekakkan telinga di satu lorong gedung kosong tempat perekrutan karyawan. Saat memasuki ruangan, mereka berlomba mendapatkan tempat duduk. Akan diadakan tes tertulis sebagai salah satu tes masuk. Ada pelamar kerja yang berjumlah puluhan bahkan ratusan.

Lebih dari sejam para pencari kerja itu menunggu di luar gedung kosong dari pagi-pagi sekali. Tidak peduli pakaian hitam putih terbasahi keringat mengucur. Tidak peduli pula penampilan yang sudah tidak karu-karuan, rambut acak-acakan, wajah menghitam berpeluh terpanggang sinar matahari.

           Beberapa orang terburu memasuki ruang tes, sebagian berlari-lari kecil. Ketinggalan rombongan besar, ada satu orang berjalan tertatih tertinggal di belakang, terpincang-pincang. Bukan karena kakinya sakit, tetapi karena sol sepatunya mau copot. Jari kelingkingnya terlihat tepat di kaus kaki yang berlubang. Ia berusaha sekuat tenaga berjalan sambil menekan telapaknya. Sepatu sebelah kanannya diseret. Dilihatnya kedepan, sudah tidak nampak rombongan yang terakhir berjalan bersamanya tadi.

           Pintu ruang an sudah di tutup. Ia mengetuknya. Pengawas mengijinkannya masuk karena baru beberapa detik saja dimulai. Para pelamar kerja itu masih diberikan pengarahan oleh pengawas lainnya.

Seluruh pasang mata menatapnya begitu ia memasuki ruangan itu. Ada tatapan iba, tidak peduli, dan tatapan biasa saja. Sebagian terganggu fokusnya. Sebagian lagi terus mendengarkan penjelasan di depan. Ia menempati kursi paling belakang di pojok ruangan.

           Lembaran dibagikan satu per satu. Setiap peserta menerima tiga lembar. Terdiri dari beberapa macam tes. Setiap tes hanya dikasih waktu sepuluh menit. Jeda tiga puluh detik lanjut tes selanjutnya. Setiap peserta berkonsentrasi penuh mengerjakan tes tersebut.

           Beberapa menit lagi waktu tes yang ditetapkan akan usai. Pria dengan sepatu sol terbelah dan kaus kaki berlubang masih sibuk mengutak-atik pulpennya. Menyelesaikan tesnya. Ia tertinggal beberapa soal dari yang lain. Ia terus berusaha menyelesaikannya. Tapi pengawas telah berteriak kalau waktu sudah habis. Lembaran tes peserta yang belum selesai ditarik paksa.

            Pria itu hanya melongo. Bersandar lemah di sandaran kursi. Ia seperti sudah tahu hasilnya.

 

***

 

 

BAB satu – setelah Mamak sendiri

 

...Biarlah orang yang kita cintai pergi bersama cinta lainnya,

Kalau dia sudah tidak mencintai kita,

Kita tidak perlu memaksanya untuk terus bersama...

 

Raka, pria pelamar kerja yang berjalan terpincang karena sol sepetunya yang mau lepas dan kaus kakinya yang berlubang, tidak antusias melihat hasil pengumuman tes tadi. Ia duduk santai di halaman gedung memerhati para peserta tes tadi berkerumun berdesakan di depan papan pengumuman, mereka mencarai nama masing-masing. Sebagian mendengus kecewa sebagian lagi berwajah sumringah, bahkan ada yang berjingkrak-jingkra setelah nama mereka tertera di papan pengumuman itu.

           Sepatunya sudah diganti dengan sandal yang menipis karetnya. Kaus kakinya dimasukan ke dalam kantung kresek, disatukan dengan sepatu. Walaupun sepatu itu sudah tidak layak utuk dipakai, Raka tetap menyimpannya. Ia belum bisa membeli sepatu yang baru. Mungkin sepatu itu akan dipakainya kalau ia akan melamar kerja lagi.

           Kerumunan di depan pintu gerbang itu berangsur mengecil. Sebagian pulang. Sebagian masuk lagi ke dalam, melanjutkan tes berikutnya–prosedur berbelit perusahaan karena banyaknya pelamar kerja. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih berdiri mencari nama mereka. Raka salah satunya.

           Dengan telunjuknya, ia membaca pelan-pelan nama yang tertera dari baris pertama hingga terakhir. Seperti yang sudah diduga, namanya tidak terselip di sana. Ia mendengus kesal. Ini tahun ke-empatnya ia melamar kerja atau mengikuti perekrutan karyawan setelah lulus sekolah lanjutan. Puluhan  mungkin ratusan lamaran yang sudah diajukan hanya sekali saja yang berhasil. Selebihnya gagal tanpa tahu kelanjutan berkas yang ia kirim atau titipkan di pos sekuriti.

Lihat selengkapnya