AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #3

Anak-anak Kebanggaan

BAB dua – anak-anak kebanggaan

 

...Kebanggaan terbesar bagi orang tua adalah,

bisa membesarkan anak-anaknya meskipun jalan terjal menghadang...

 

Setahun dua tahun keadaan belum membaik. Malah semakin bertambah saja kesulitannya yang Keluarga Mamak jalani. Banyak ujian yang selalu singgah menski keadaan belum siap menyambutnya. Rasya, si bungsu sakitlah. Radit melukai temannya, hingga harus bertanggung jawab mengobati. Mamak Ningsih yang dipanggil ke sekolah, karena sudah hampir seminggu Raka tidak masuk sekolah. Padahal Raka bekerja banting tulang membantu keuangan yang morat-marit. Hanya si anak kedua Rindu yang tidak bermasalah. Anak perempuan memang seharusnya begitu.

           Hari itu Raka dan Radit disidang Mamak.

           Pertama Radit, Mamak bertanya kenapa ia sampai melukai anak temannya. Radit mengatakan kalau temannya itu menghina Mamak. Dengan kata-kata yang tidak pantas didengar. Membuat Radit naik pitam, maka ditinjulah mata temannya itu hingga memar di luar, merah di dalam matanya. Mamak hanya diam. Radit menangis. Ia mengatakan kalau Radit yang dihina tidak masalah. Tetapi kalau Mamak yang dihina, ia marah besar. Anak usia sebelas tahun itu tahu mana yang benar dan mana yang salah. “Menghina orang itu salah kan, Mak.,” ucap Radit sesenggukan takut amarah Mamak semakin memuncak. Bukan naik amarahnya, Mamak terlihat kepayahan menahan air mata yang jatuh.

           Mamak diam mengangguk menanggapi pembelaan Radit.

           Radit tidak salah. Anak sebelas tahun itu hanya membela kehormatan Ibunya, yang anak-anak seusianya tidak mengerti karena tidak mengalami. Anak sebelas tahun itu sudah tahu bagaimana bersikap. Anak sebelas tahun itu tahu menjadi anak laki-laki di keluarganya.

           Kedua Raka, Mamak marah besar kenapa Raka bisa sampai bolos sekolah hingga satu minggu lamanya. Kemana saja. Setiap pagi berangkat sekolah. Dan setiap siang menjelang sore, sudah pulang seperti biasa. Setidaknya itu yang diketahui Mamak Ningsih.

           Emosi menguasai Mamak ketika menginterogasi Raka. Sebelumnya Radit sudah disuruh keluar terlebih dahulu. Namun Radit tidak benar-benar keluar meninggalkan Mamak dan Raka. Bersembunyi di balik pintu kamar Rindu sekaligus kamar Mamak, hanya ada satu kamar di rumah ini.

Wajah Mamak menakutkan kalau sedang marah, Raka tidak berani menatapnya. Hanya menunduk tanpa bergerak, masam dan ketakutan wajah anak pertama itu. Rentetan nasihat ditelannya. Raka tidak sakit hati sama perkataan Mamak. Dia justru senang diperhatikan seperti itu. Meski caranya berbeda. Raka menganggap ucapan Mamak sebagai bentuk kasih sayanganya. Sebagai anak pertama, ia harus sering mendapatkan ocehan keras agar ia siap ketika lulus nanti.

           Mamak Ningsih duduk. Wajahnya pucat menatap lurus. “Mamak minta maaf sudah berkata keras ke kamu,” ucapannya terhenti. Butir-butir air mata jatuh membasahi pipinya yang menghitam terpapar sinar matahari. “Mamak hanya ingin kamu sekolah. Biar tidak bodoh kayak Mamak”

           Raka terharu, lantas memeluk tubuh wanita yang sangat disanjungnya itu. Erat. Wanita yang sudah bekerja sangat keras menghidupi keempat anaknya. Dan Mamak mengatakan kalau ia bangga sama anak-anaknya, yang cepat dewasa karena ditempa ujian yang tidak ringan. Keempat anaknya itu tidak pernah menuntut kehidupan layak. Tidak menuntut makanan enak. Tidak menuntut baju dan sepatu mahal. Tidak menuntut yang Mamak tidak bisa belikan. Bahkan tidak menuntut uang jajan. Terkadang mereka mencari sendiri jika ingin membeli sesuatu. Bekerja serabutan, apa saja. Keempat anaknya sangat pengertian. Tangguh seperti dirinya.

           Radit menangis sesenggukan mengintip adegan mengharukan itu. Rindu menenangkan adik kecilnya. Sekali mengusap air mata Radit. Sekali mengusap kepala Rasya, bocah berusia empat tahun empat bulan yang sudah pandai berhitung, menulis–setidaknya menggunakan pensil, dan meminta jajan. Sekarang semuanya tercurah ke anak bungsu. Tiga kakaknya mencari uang untuk menyenangkan adik bungsu mereka.

Lihat selengkapnya