AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #5

Meniti Jalan Keadilan

BAB empat – meniti jalan keadilan

 

...Jangan mau diperlakukan tidak adil,

Berjuanglah untuk mendapatkannya. Kalau bukan kita yang berjuang, siapa lagi...

 

Siang hari yang tidak seperti siang. Tanpa terik sang penguasa terang. Berkabut mendung terpancang.

Cuaca sedang ingin menggoda manusia untuk bersandar malas di peraduan. Saat Mamak Ningsih bekerja seperti biasa. Raka mengajak Rindu datang ke rumah Bapak tanpa sepengetahuan yang lain. Awalnya Rindu ragu karena kepikiran Mamak. Takut Mamak marah. Tetapi Raka berjanji untuk tidak berlama di sana. Radit diminta menjaga Rasya sampai mereka kembali.

           Menahan geram sepanjang jalan. Berkali Rindu mengingatkan Raka untuk tidak berbuat onar. “Ingat, Kak, kita di kampung orang.” Tidak menjawab, hanya ngegerundel yang terdengar dari mulutnya Raka, bahkan tidak menanggapi serius ucapan Rindu.

           Sampai di depan pintu rumah Bapak. Raka dan Rindu mendengar canda tawa dari dalam. Iri menyergap keduanya. Sebahagia itu Bapaknya telah meninggalkan Mamak dan keempat orang anaknya. Tak pernahkah terpikirkan Mamak dan anak-anaknya sekali saja. Raka naik pitam. Didobraknya pintu dengan sekali tendangan. Bapak dan wanita itu yang sedang bercengkerama tersentak kaget.

           Raka mendekati. Amarahnya meluap-luap, mendidih kepalanya. Bapak dan wanita itu berdiri. Dari belakang tubuh Raka, Rindu melihat wajah pucat Bapak. Raka berjalan cepat menghampiri. Dari jarak satu langkah saja, ia langsung menampar wanita itu. Dan mendorong Bapaknya. Raka menahan diri tidak mengeluarkan kata-kata kasarnya. Ia masih ingat dengan ucapan Rindu. “Tamparan itu buat elo yang udah nampar Rindu kemaren!” Inilah yang ingin dia lakukan sejak kemarin, bahkan sejak wanita itu merebut Bapaknya. Saat ia masih remaja dulu.

           Wanita itu ketakutan. Gemetar tangannya. Bapak malah sempat menegur Raka dengan ucapan yang sopan. Sudah lama tidak bertemu, Bapak melihat Raka sudah besar. Dan sudah menjadi pemimpin keluarga. Bagaikan sedang bercermin, Bapak melihat semua yang ada di dirinya, ada di diri Raka. Bapak berdiri kembali. Lelaki itu teronggok diam berdiri tanpa bersapa. Tanpa senyum. Hanya tatapan kagum dan kangen menghampiri.

           “Raka, kamu sudah besar,” ucap Bapak pelan.

Raka menatap dalam kebencian. “Nak, Bapak kangen sama kalian semua.”

Raka membentaknya. Ia tidak sudi dipanggil Nak oleh lelaki yang telah menghancurkan masa depannya. Lelaki yang telah membuatnya menjadi sosok pendendam yang menyimpan amarah.

           Raka tidak mengindahkannya tatkala Bapak menyebut namanya, memanggil-manggilnya. Raka menarik kasar tangan Rindu. Memaksanya pulang.

           Sesaat Rindu menoleh, melihat tatapan mata Bapak. Ada genang air di pelupuk mata Bapak yang mulai melandai. Iba menatap wajah pias Bapak. Rindu benar-benar rindu dengan sosok yang sudah ia dambakan berkumpul kembali. Biar bagaimanapun, ia adalah Bapak. Orang yang telah membuatnya ada di dunia. Tetapi bila melihat kehidupannya, Bapak nampak bahagia. Tidak memikirkan Mamak dan keempat anaknya. Hidup berkecukupan. Tidak seperti dulu. Apa karena wanita itu yang membiayai hidupnya sekarang. Sehingga Bapak begitu takut dengannya.

           Dulu Bapak adalah seorang tukang bangunan. Bapak baru bekerja kalau ada pembangunan di dekat rumahnya Namun jika tidak ada, Bapak akan berserabutan mencari nafkah. Itu dulu. Sebelum mengenal wanita itu dan pergi bersamanya. Sekarang, Bapak sudah tidak bersusah payah lagi mencari nafkah. Mungkin saja nasib menjadi orang miskin yang telah membuatnya jenuh dengan kehidupan, makanya Bapak tega meninggalkan keluarganya demi seorang wanita yang banyak simpanan hartanya.

            Untung saja Mamak belum kembali saat Raka dan Rindu sudah menapaki rumah kumuhnya. Bukan takut akan kemarahan Mamak. Kesedihan Mamaklah yang mereka takutkan. Kejadian tadi malam membuat mereka sadar, keputusan Rindu datang ke rumah Bapak sendirian telah menyakiti hati Mamak.

           Uang yang belum didapatkan Rindu memaksanya berada di rumah hari ini. Tidak bersekolah karena malu dengan teman-temannya. Dan kebetulan pagi tadi ada salah seorang tetangganya yang meminta Rindu menjaga sepasang anak kembarnya. Dengan imbalan yang lumayan, bisa untuk melunasi uang bayaran yang nunggak selama tiga bulan.

Lihat selengkapnya