BAB lima – perjuangan tiada henti
...Hidup itu tentang perjuangan,
Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun,
Tidak lepas dari perjuangan...
Berturut-turut kejadian yang merojok batinnya. Kejadiannya yang membuat hatinya miris. Mamak Ningsih melarang anaknya untuk bertemu dengan Bapak. Atau melarang anaknya menerima pekerjaan dari orang-orang yang berniat tidak baik. Tetapi bagaimana cara mengetahuinya kalau pekerjaan itu tidak baik. Sepertinya ditujukan khusus untuk Rindu. Dua kejadian minggu lalu adalah berhubungan langsung dengan Rindu. Kejadian yang tidak diduganya.
Hampir setahun berlalu. Setahun berjuang tanpa henti. Setahun waktu yang lama menunggu bagi Rindu untuk melepas status pelajarnya. Rindu sudah lulus, sudah tidak betah memakai seragam putih abu-abu. Selama setahun ini susah payah mencari uang kesana kemari untuk bayaran sekolah. Sama persis yang dilakukan Raka. Penghasilan Mamak Ningsih hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah Radit dan Rasya.
Hari kelulusan adalah hari yang dinanti Rindu. Tidak sabar ia ingin segera mencari pekerjaan. Seragam lusuhnya dibuang, sudah tak layak pakai, apalagi diturunkan untuk adiknya. Namun seperti yang Mamak Ningsih minta. Jangan mencoret-coret seragam. Perlakukan barang yang kamu miliki dengan baik.
Nasihat Mamak Ningsih didengar baik-baik. Rindu tidak pernah membantah titah Mamak sekalipun. Selalu menuruti nasehatnya .
Setahun berlalu. Raka sudah dua tahun menganggur. Ia belum juga mendapatkan pekerjaan. Sekali waktu masih optimis. Sekali waktu merasa putus harapan. Namun berbeda dengan Rindu, semangatnya masih berkobar, karena baru menerima selembar ijazah. Selembar menentukan dari tiga tahun berjuang di sekolah lanjutan. Dua belas tahun keseluruhan. Rindu memasang target tidak lebih dari enam bulan menganggur.
Kehidupannya belum membaik. Mamak Ningsih masih berkutat dengan perjuangan menafkahi anak-anaknya. Saat ini usia si bungsu Rasya delapan tahun. Radit sudah menginjak tahun terakhir memakai seragam putih biru, sudah berusia empat belas tahun menuju lima belas.
Seharusnya Raka sudah bisa membantu biaya sekolah dua adiknya tersisa. Tetapi nasib baik masih belum berpihak. Pun dengan Rindu. Bulan kedua dan ketiga setelah kelulusan belum mendapatkan pekerjaan. Namun Rindu terus berlaku seperti masa-masa mencari uang saat ia masih duduk di sekolah lanjutan. Tidak mau tinggal diam. Sekali waktu ia bekerja di laundry. Dari sini ia tahu jalur mendapatkan orderan mencuci. Ia mengambil handuk-handuk kecil yang dipakai di salon, untuk dicuci di rumah. Lumayan hasilnya. Bisa membantu untuk bayaran sekolah dua adiknya. Dan makan sedikit enak.
Dari pertigaan jalan, Raka mengumpulkan uang receh. Sedikit demi sedikit. Hanya untuk mengajak Mamak dan ketiga adiknya makan di warung pinggir jalan. Sekedar menikmati lele goreng atau ayam bakar.
Mamak Ningsih bangga dengan Raka dan Rindu.
***
Pagi bertarung peluh. Di tengah gerimis membasahi jalanan yang masih lengang. Dinginnya terasa menembus baju yang membungkus. Hari ini untuk pertama kalinya Rindu mendapatkan panggilan wawancara kerja. Senang bukan kepalang. Menari-nari dibenaknya sejumlah rupiah yang akan didapatkannya bulan depan. Terbayang gajian pertamanya. Ingin membelikan sesuatu untuk Mamak. Dan dua adiknya.