AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #8

TANGGUH

BAB tujuh – tangguh


...Menjadi pribadi kuat akan menolong kita menghadapi dunia yang kejam...


Sudah lima bulan sejak peristiwa tudahan tak terbukti pada dirinya, Rindu semakin dekat saja dengan Steven. Tiap harinya selalu bersama. Bahkan Steven sudah mengenal Mamak dan ketiga saudara Rindu. Kedekatan mereka disebut Rindu sebagai teman dekat saja, karena Steven belum menyatakan apa-apa padanya. Kedekatan yang menimbulkan iri bagi rekan sekantor Steven. Dan kabar dusta menjijikan di supermarket besar itu.

Lima bulan berlalu. Lima bulan yang menentramkan hati Mamak. Lima bulan ini keuangan keluarganya meningkat tajam. Rindu terbantu oleh Raka yang bekerja sebagai asisten pribadi Bu Ratri. Bahkan Raka dan Rindu bisa berpatungan membeli dua mesin cuci dan sebuah mesin pengering untuk usaha cuci gosok di pekarangan rumahnya. Mamak tidak lagi mencuci di rumah orang. Ia hanya menerima jasa itu di rumahnya. Dan dengan inisiatifnya, Raka membuat plang nama dari selembar papan triplek berukuran tak lebih dari semeter persegi. Dengan cat warna warni plang nama itu dipasang di atas pagar kayu bertuliskan, LAUNDRY MAMAK. Semua dikerjakan di halaman kecil yang sudah nampak bersih. Dua hari kemarin leluarga Mamak bekerja keras emmbersihkannya.

Wanita itu, Bu Ratri kerap bertandang ke rumah Mamak, seringnya membawa penganan, atau oleh-oleh ketika baru pulang dari luar kota. Kedekatannya Mamak dengan Bu Ratri menimbulkan tanda tanya warga sekitar karena Bu Ratri dianggap sebagai wanita misterius.

Sekali lagi, Mamak menerapkan sikap masa bodonya. Baginya memikirkan kehidupan keluarganya jauh lebih penting daripada mendengar bualan tidak bernada miring tetangganya yang tidak ada disaat keluarga ini terpuruk. Hidup harus terus berjalan. Batin Mamak. Walau bertamasya dengan kesenangan dunia. Atau berhimpit kesulitan tiada punah. Hidup selalu sulit terprediksi. Kapan datangnya nasib mujur. Kapan datangnya nasib apes. Semua itu tidak ada dalam kalender.

Itulah yang diterapkan Mamak. Selalu berusaha yang terbaik setiap harinya. Jangan pernah terpengaruh omongan orang lain yang akan menjatuhkan mental diri sendiri. orang lain tidak pernah tahu kesulitan apa yang kita rasakan. Diam adalah cara terampuh menanggapi itu semua. “Biar mereka makin kesal dengan ketidakpedulian kita atas omongan mereka,” ujar Mamak pada anak-anaknya.

Dingin di pagi ini memalaskan Raka untuk bangun dari tidurnya. Kalau bukan karena tugas dari Bu Ratri, tentunya ia tidak akan bangun sepagi ini. Tugas rahasia yang selalu dibilang Bu Ratri, yang sampai saat ini belum diketahui Raka rahasia apa. Berkali ia bertanya tugas rahasia itu, namun Bu Ratri selalu tutup mulut. Tidak mau menjelaskan, bahkan melengos setiap Raka menatap lekat dirinya.

Raka hanya diminta mengirimkan sebuah tas berisi kotak bermacam ukuran. Sehari sekali mengirim tas yang berisi satu kotak tersebut. Beserta alamat yang ditulis di selembar kertas. Dan selalunya dikirim sebelum lantunan ayat-ayat suci menjelang azan subuh berkumandang. Di pagi-pagi buta pemuda tangguh itu bersiap berangkat. Berjaket kulit. Bertas punggung. Dan ditemani sebatang rokok yang terselip di telinganya, ia pamit. Mamak mengiringinya sampai pagar kayu.

Udara dingin sangat menggigit akibat hujan yang tidak berhenti semalamam, baru reda di jam tiga dini hari. Raka sudah di tunggu Bu Ratri yang berdiri di depan pintu rumahnya. Wanita itu menyerahkan satu tas kecil berisi kotak kecil sebesar kotak cincin pernikahan. Dan menyerahkan sebuah kunci.

“Ini apa bu?” Bu Ratri tidak menjawab.

Ia berjalan menuruni tiga anak tangga. Lalu menyibak cover nilon. Terbuka di depan Raka. Sebuah motor besar berwarna hitam. “Kamu bisa pakai ini, Raka. Untuk mengantar pesanan.” Raka mendelik. Mematung. Ia tak bisa berkata-kata. Motor di depannya itu berharga setinggi langit.

Lihat selengkapnya