AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #9

MENCIUM BANGKAI

BAB delapan – mencium bangkai


...Mencurigai sesuatu bisa jadi tameng kehidupan,

Karena dengan mencurigai bisa terhindar dari keburukkan...


Tengah leha-leha tanpa tugas apapun. Raka sedang mengatur serangan dalam permainan catur bersama supir Bu Ratri, di bangku taman di halaman rumah tersebut. Buah catur itu dipindahkan kesana kemari mengikuti taktiknya. Keduanya berkonsentrasi memastikan tidak salah langkah. Semalam ia kembali menginap di rumah ini. Dan semalam kembali terdengar suara gaduh dari kamar di sebelahnya. Suara seperti orang meracau tidak jelas. Sekali mendengar suara seperti orang kepedasan.

Sempat sekali bertanya pada Pak Supir. Namun jawabannya selalu sama. “Entar kamu juga tahu.” Bah, apa sebenarnya yang disembunyikan di rumah ini. Ada apakah di rumah ini. Raka belum bisa menguaknya. Bu Ratri memanggilnya, memintanya untuk beristirahat karena selepas siang akan diajak ke rumah koleganya. Raka menuruti, dan meminta izin untuk meminjam motor besar itu.

“Silahkan Raka. Kamu bisa pakai untuk apa saja motor itu. Bebas. Yang terpenting pada saat saya membutuhkan. Kamu harus siap,” ucap Bu Ratri menegaskan dirinya sebagai asisten pribadi yang harus siaga kapan pun.

“Baik terima kasih, bu.”

Raka menyambangi dua teman karibnya. Teman sepermainannya. Rudi dan Sanif. Ketika dirinya datang dengan motor besar itu. Decak kagum dan pujian merepet bagai petasan cabe rawit yang diletuskan.

“Ini sih Cuma motor kantor bro. Tapi lumayanlah, gue bebas pake kemana aja,” ucap Raka sekali napas. Bangga sekali ia dengan pencapaiannya. Kekhawatiran kedua temannya akan kemisteriusan Bu Ratri tidak terbukti. Setidaknya belum sampai saat ini.

“Lu bisa kali ngerayu bos lu minta dibeliin mobil. Nanti kita pake keluar kota, Raka.” Sanif tertawa keras sekali. Berkata sedikit satir pada Raka.

“Ah sial lu, Nif.”

Kembali bertiga tertawa keras. Sudah lama mereka tak berkumpul seperti ini. Pertemanan ketiganya bukan baru berlangsung setahun dua tahun. Berteman semenjak kecil. Mereka sudah saling mengenal. Setelah dewasa, mereka sama-sama berjuang. Mencari kelayakan hidup yang didamba.

Raka kembali ke rumahnya setelah bertandang dari tempat tongkrongan. Pulang ke rumah pun karena Rudi dan Sanif harus berangkat kerja. Dilihatnya Mamak sedang menyetrika pakaian di halaman kecil rumah itu. Dua mesin di belakangnya berputar menggiling berkilo pakaian. Rasya duduk sambil bermain game di tangannya. Inilah kehidupan yang diingininya. Mamak bisa mencari uang dari rumah saja. Ia bisa tenang karena adik bungsunya tak akan ke mana, ada Mamak yang bekerja sambil menjagai.

“Tidak masak ya, Mak?” tanyanya kembali ke halaman depan setelah dari dapur.

“Tidak, Raka. Mamak banyak orderan,” jawabnya sambil membolak balikkan tangannya di atas meja setrika. Satu kemeja sedang disetrikanya.

“Kalau gitu, Raka beli makanan dulu ya, Mak. Mamak mau apa?”

“Apa saja. Yang penting adikmu ini. Belikan saja ayam goreng kesukaannya.”

Lihat selengkapnya