AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #10

Sejumput Harap Yang Memuai

BAB sembilan – sejumput harap yang memuai


...Tuhan telah menciptakan akal dan pikiran,

dipergunakanlah dengan sebaik-baiknya...


Benar saja, hari ini Mamak Ningsih didatangi pelanggan yang marah-marah tadi. Kini datang bersama suami dan temannya. Kembali pelanggan itu berteriak keras. Marah-marah seenaknya. Menunjuk-nunjuk merendahkan. Tidak menghargai orang yang lebih tua. Mamak Ningsih bingung menghadapinya. Padahal sudah dikatakan tadi, Raka akan mengganti kerugian penuh.

Sama seperti tadi, sekarang pun pelanggan itu marah-marah mengeluarkan ancamannya. Sampai akan membawa masalah itu ke kantor kepolisian.

Rasya yang sudah bisa menalari setiap kejadian, segera menelepon Radit yang kembali ke pertigaan. Pun Radit langsung menelepon Raka yang saat ini masih berada di rumah kolega Bu Ratri.

Raka kembali mengingat-ingat ketika beberapa kali Bu Ratri bicara, jika ada masalah dengan keluarganya bisa melapor ke dirinya. Raka pun mengadu pada wanita itu. Memperlihatkan rekaman gambar bergerak dimana Mamak Ningsih sedang diintimidasi.

Segera Bu Ratri mengatakan pada koleganya. Dan laki-laki berwibawa tersebut langsung melakukan sesuatu. Ia menelepon seseorang dan memintanya segera datang ke rumah Raka.

Dua orang polisi dengan satu mobil berhenti di ujung gang. Setelah bertanya ke salah satu warung, dua orang polisi itu berjalan santai menuju rumah Mamak Ningsih. Dan di rumah itu, Mamak masih mendapatkan caci maki dengan kata-kata yang tidak pantas didengar. Mereka menuntut ganti berlipat dan mengaku sudah melaporkan ke kepolisian. Radit yang sudah beranjak remaja, ingin sekali menampar mulutnya. Tetapi selalu dicegah Mamak.

Dengan gagahnya Polisi-polisi itu masuk ke halaman kecil rumah Mamak. Di sambut antusias pelanggan yang marah-marah sejak setengah jam yang lalu. Tidak berhenti dengan gayanya yang arogan.

“Ibu Ningsih?” tanya salah seorang polisi setelah berdiri di belakang pelangga yang sedang meluapkan emosinya.

"Iya benar itu namanya Mamak Ningsih, Pak. Yang ngerusak baju saya. Tangkap aja, Pak.” Sekali lagi pelanggan itu berkeras dengan ucapannya. Arogannya tidak berkurang.

“Ibu Ningsih tenang saja. Kami tahu Ibu tidak sengaja. Anak Ibu sudah berniat baik menggantinya,” ujar Bapak Polisi itu. “Dan untuk Ibu, Bapak dan temannya ini. Karena sudah membuat kekacauan di sini. Kalian semua kami bawa ke kantor polisi. Untuk dimintai keterangan.” Pelanggan itu terkesiap, melongo.

Lihat selengkapnya