AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #11

Bertarung Tujuan

Bab sepuluh – bertarung tujuan


...Tidak selamanya bekerja keras akan memberikan hasil yang baik...


Setelah memberikan keterangan lengkap di kepolisian, Mamak Ningsih sampai di rumah selepas magrib. Rumah sederhana yang sudah memberikan kenyamanan lebih dari umur Raka sendiri. Rumah berpagar kayu berdinding tanpa cat, dan berlantai sebagian peluran semen. Rumah yang menjadi saksi suka dan duka, naik turun, baik buruknya keadaan. Salah satunya perpisahan dengan suaminya. Dan usia perpisahan itu semuran dengan usia Rasya. Tapi Mamak masih mensukuri itu semua.

Sebenarnya perpisahan itu bukanlah perpisahan yang sebenarnya. Tidak ada kata-kata cerai dari suaminya. Tidak ada ketok palu dari pengadilan agama. Apalagi perpisahan secara hukum. Mamak masih berstatus sebagai seorang istri, namun ragalah yang memisahkan. Dan pilihan Bapak yang memutuskan. Hingga hari ini, Bapak belum pernah kembali. Berkunjung pun tidak, menengok anak-anaknya. Bahkan tidak pernah terucap satu kata “maaf” yang keluar dari mulutnya.

Hari ini Laundry Mamak tutup, dikarenakan kejadian yang menakutkan dirinya tadi. Mamak sempat ciut nyalinya ketika akan dilaporkan pelanggan tersebut ke kepolisian. Namun justru pelanggan itu yang diciduk. Gertakan itu ternyata hanya ingin memerasnya secara halus.

Mamak Ningsih tetaplah mamak Ningsih. Apa adanya diri seorang ibu yang pemaaf. Perjuangannya telah menempanya menjadi pribadi bijaksana, tangguh luar dalam. Ia tidak melanjutkan kasus pelanggannya. Walaupun pelanggan tersebut bisa dikenakan pasal berlapis. Seperti tindakan pengancaman, pemerasan, kekerasan verbal, dan perbuatan tidak menyenangkan.

Tidak ada penyesalan mencabut laporan itu. Bahkan Mamak Ningsih mengganti seratus persen harga pakaian yang dirusaknya. Raka sempat protes atas tindakan Mamak. Ia menelepon saat mobil itu berhenti di area pengisian bahan bakar. Tetapi Mamak Ningsih mengatakan kalau ada orang yang berlaku jahat pada kita, tidak perlu dibalas dengan kejahatan. Karena kalau dibalas, apa bedanya kita dengan orang itu.

“Hanya Tuhan yang berhak membalasnya, Raka.” Begitulah kira-kira ucapan Mamak. Pemuda tangguh itu hanya bisa mengiyakan ucapan Mamaknya. Mendebatnya akan menguras energi sendiri. Mamak selalu bisa menjawabnya dengan lugas. Pendiriannya begitu kuat.

“Kita harus memaafkan orang yang telah menyakiti kita. Hidup ini hanya menuggu waktu selesainya, Raka. Kita hanya sementara di dunia ini. Yang abadi itu kehidupan setelah kematian.”

Kalau sudah berkata seperti itu, Raka akan terdiam. Tidak menanggapinya lagi. Menelan bulat-bulat ucapan Mamak.

Saat ini Mamak sedang menyiapkan Rasya makan malamnya. Radit masih bergelut mencari uang receh di pertigaan. Padahal Rindu sudah mewantinya untuk membantu Mamak di usaha laundry-nya.

Makan malam sudah selesai disiapkan, Mamak beranjak ke kamar mandi membersihkan diri sambil menunggu anak-anaknya pulang. Sejak di kantor polisi, dadanya selalu terasa nyeri, seperti terhimpit oleh cairan. Napasnya sangat berat dan menyesakkan. Beberapa kali Mamak batuk-batuk. Tenggorokannya panas dan nyeri, juga menggelitik gatal. Berpuluh menit tidak berhenti batuknya. Justeru semakin kencang.

Sewaktu Mamak keluar dari kamar mandi, Rasya sudah berdiri di sana. “Mamak sakit?” Tanyanya polos.

Mamak menggeleng. “Lagi nggak enak badan aja, Rasya.” Mamak pun berizin tidur di kamar. Pesannya pada Rasya untuk mengunci pintu. Dan menolak orang yang mau me-laundry pakaiannya.

***

Di ujung gang, Rindu turun dari dalam mobil milik Steven. Karena jalan yang sempit hingga sulit memarkirkan mobilnya, Steven tidak bisa mampir ke rumah Rindu. Raut wajahnya tidak menunjukan ia sedang berbunga-bunga. Justeru raut itu terlihat sedang menanggung beban pikiran yang berat. Meskipun di mulut berucap “tidak ada apa-apa” tapi hatinya sedang tidak baik-baik saja, desir kecewa menjalar deras di tubuhnya.

Lihat selengkapnya