AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #12

Memasung Keyakinan

BAB sebelas – memasung keyakinan


...Pilihlah pasangan sesuai dengan levelmu.

Jangan yang terlalu di atas apalagi di bawah. Yang penting pas...


Raka mengendarai motornya masuk ke dalam perumahan atau cluster menengah. Terlihat dari rumah-rumah berukuran sedang berjajar. Model dan warna catnya sama satu dengan yang lainnya. Rumah-rumah ini berbanding terbalik dengan rumah milik Pak Sastra. Mungkin sekitar sepuluh hingga lima belas rumah setara dengan luasnya rumah pria kaya raya itu.

Raka memarkirkan motornya di depan rumah yang dituju. Rumah yang berada paling pojok. Ia cocokkan nomor rumah dengan alamat yang sudah dikirim padanya. Benar, rumah No. 57, rumah beralamat sama dengan pesan yang diterimanya semalam.

Masih mendingin suhu di pagi buta ini. Tidak ada satu orang pun yang terlihat di perumahan kecil ini. Semuanya masih terlelap, bisa terlihat dari gelapnya rumah-rumah tersebut. Seperti berada di pedesaan yang tak tersentuh peradaban dunia modern. Beda sekali dengan kaum kelas bawah yang sudah berjibaku dengan keringat saat mereka masih tertidur. Tidak juga seperti Mamak, yang selalu bangun sebelum nyanyian pelantun azan di awal hari. Salut sekali ia pada Mamak. Bangun terlebih dahulu di pagi buta. Dan tidur paling belakangan di malam pekat. Harusnya itu bisa menjadi tamparan dirinya untuk bangun sebelum Mamak mempersiapkan segalanya. Dan tentu sindiran halus untuk berangkat ke masjid, mengerjakan kewajiban sebagai seorang manusia yang masih membutuhkan Tuhan.

Raka masuk ke pekarangan rumah dimana sebuah mobil kelas menengah terparkir. Ia terus berjalan ke arah pintu. Sudah berdiri di depannya, ia ketuk beberapa kali. Belum ada tanda-tanda penghuninya terbangun. Lampu di dalam juga belum dinyalakan. Raka kembali mengetuknya. Sekarang lebih keras sembari mengucapkan salam. Ditunggu beberapa menit, belum ada jawaban. Lagi-lagi dicobanya. Ketukannya dua kali lipat lebih keras dari yang pertama. Dan ucapan salamnya menggema sampai rumah paling ujung.

Ternyata belum berhasil juga, kali ini menarik napasnya dalam-dalam, ia ancang-ancang ingin berteriak sekeras-kerasnya. Tetapi sebelum niatnya dilakukan, terdengar bunyi kunci diputar, pintu terbuka. Seorang pria dengan garis wajahnya yang tegas dan sedikit menyeramkan menyuruhnya masuk.

Lihat selengkapnya