AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #13

Terpenjara Kebiasaan

BAB dua belas – terpenjara kebiasaan


...Seorang ibu akan selalu menolong anak-anaknya, apapun masalahnya...


Batu-batu sebesar kepalan tangan beterbangan dari satu kawanan. Batu-batu dengan besaran yang sama betebangan pula dari kawanan yang lain. Dua kubu saling melempar. Saling bersorak. Saling mengumpat. Kata-kata kasar terlontar tanpa penyaring. Satu kawanan menyerang ke daerah lawan. Satu kawanan bertahan. Berlari maju, sebentar lagi mundur, saling serang tak henti.

Keseruan lakon dua kawanan memacu tensi pengguna jalan yang lain. Bak pertunjukan kekuatan jumlah pasukan tersaji brutal. Bak pertarungan di zaman-zaman kerajaan layaknya zaman Romawi kuno. Atau zaman kerajaan di dalam negeri sendiri.

Situasinya memadatkan kendaraan. Warung-warung pinggir jalan membereskan dagangannya. Lalu menutupnya. Gerobak-gerobak kocar kacir menyelamatkan dagangannya. Ada pula penjualnya lari tunggang langgang meninggalkan dagangannya. Ibu-ibu menyelamatkan anak-anaknya, agar tidak tersentuh batu nyasar sebesar kepalan tangan.

Ini adalah tawuran penuh gengsi pelajar berseragam putih abu-abu. Kebiasaan bertahun-tahun dari dua sekolah yang berlokasi berdekatan.

Di dalam satu kawanan yang menyerang itu, ternampak Radit. Memegang botol berisi cairan. Satu kain kecil tercelup sebagian ke dalam botol dan sebagian lagi di berada di luar penutupnya. Lalu Radit menyalakan pemantik korek gas. Membakar kain di luar botol. Kemudian melemparkan botol yang telah tersulut api itu jauh ke kubu lawan.

“Awas...! Bom molotov...! Minggir...!” teriakan pemimpin kubu lawan. Cerai berai kawanan yang bertahan. Menghindari botol berisi cairan bensin yang tesulut api. Ada yang menyelamatkan diri ke dalam sekolah. Ada yang menyelamakan diri ke rumah warga. Ada yang menyelamatkan diri ke jalanan besar. Radir tertawa jahat. Puas.

Kawanan yang dipimpin Radit terus merangsek mendekati sekolah lawan. Kubu lawan semakin terdesak.

Dua kubu terus saling lempar batu mengepalkan tangan.

Sekarang, tidak satu pun kawanan pelajar yang diserang ternampak di luar sekolah. Mereka bertahan dan bersembunyi di dalam. Yang tersisa di luar, entah di rumah warga, atau di jalanan, sudah menyelamatkan diri berlarian tunggabg langgang menyebar. Sementara kawanan yang menyerang terus melempari batu-batu sebesar kepalan tangan. Pagar yang terbuat dari besi kopong, penyok sana sini.

Merasa menang, Radit menyerukan kawan-kawannya kembali. Sudah puas melampiaskan kemarahan.

Radit bersama kawan-kawannya melakukan penyerangan disebabkan salah seorang temannya masuk rumah sakit karena dikeroyok oleh beberapa orang pelajar di sekolah itu.

Serombongan itu bergagah-gagahan di jalanan. Menakutkan orang-orang. Diantara mereka ada yang membawa ikat pinggang dengan kepalanya yang terbuat dari besi dan berukuran besar. Ada pula yang membawa rantai. Ada yang membawa tali terikat gear motor. Bahkan ada yang membawa senjata tajam.

Pelajar-pelajar itu membolos di jam pelaharan, membuat gaduh di jalanan. Menyiutkan nyali pengguna jalanan yang lain, bahkan menakuti seorang polisi lalu lintas yang hanya sendiri mengatur derasnya kendaraan di persimpangan lampu merah. Polisi itu mengalihkan pandangannya ke arah lain begitu rombongan pelajar bermental pemain sirkus itu melewatinya. Dia tidak mungkin melarangnya, bisa babak belur dikeroyok pelajar tak kenal rasa takut itu.

Lihat selengkapnya