BAB tiga belas – ujian hidup itu memang berat
...Memaksakan kehendak bukanlah langkah bijak,
Perlu pemikiran mendalam untuk menerimanya dengan lapang dada...
Sejumput harap akan hidup yang lebih baik, masih jauh dari angan-angan. Mamak Ningsih masih memikul beban yang tidak ringan. Memanggul tanggung jawab yang tidak kecil. Mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang seharusnya seperti memanggang jauh dari bara api. Sulit menggapainya.
Seperti siang ini, setelah memakan makanan yang dibelikan Raka. Mamak sudah berada di kantor polisi. Mengejar waktu yang dijadwalkan pihak kepolisian. Begitu menurut Rindu. “Waktunya tidak bisa diundur, Mak.”
Secepat Raka kembali ke rumah Bu Ratri, maka secepat itu juga Mamak Ningsih pergi ke kantor polisi. Dari tadi ia menunggu Raka pergi ke rumah wanita itu, agar tak terlihat olehnya. Dan setelah Raka pergi, Mamak menempuh jalan lain keluar dari gang. Ia pergi mengajak Rasya. Tidak mungkin Mamak meninggalkan Rasya sendirian di rumah. Terlalu riskan karena usianya belum genap sepuluh tahun.
Di halaman kantor polisi, Mamak Ningsih melihat sekawanan pelajar bercelana bertelanjang dada, berkepala plontos. Pelajar-pelajar tersandera itu tengah duduk-duduk di tepian, sudah tidak dijemur lagi. Mamak perhatikan satu per satu kawanan pelajar itu, tidak ditemukan Radit di sana.
Mamak Ningsih berlalu terburu masuk ke dalam. Ia segera bertanya pada polisi yang berjaga. Setelah mendapat jawaban, ia masuk lebih ke dalam. Ada beberapa pelajar yang sedang ditanyai polisi. Ada juga beberapa orang yang menunggu. Ia belum tahu, apakah orang-orang itu ingin menjemput anaknya atau sekadar membuat laporan kehilangan atau kejahatan. Kalau ingin membuat laporan, mengapa orangnya sebanyak itu. Bukankah mereka tahu perlu uang banyak untuk membuat laporan. Itu sudah jadi rahasia umum.
Setelah melakukan semacam pendaftaran, Mamak ikut-ikutan duduk di samping orang-orang itu. Entah tahu atau tidak. Ia terus memerhatikan sekitar ruangan itu. Berharap salah satu pelajar yang sedang ditanyai itu adalah Radit.
Sejenak kemudian seorang polisi menghampirinya, menyuruh Mamak dan orang-orang itu masuk ke sebuah ruangan. Semacam ruang serba guna di dalam. Disuruhnya Mamak dan yang lainnya duduk. Ada sembilan orang tua bersama dengannya. Rasya pun ikutan berdiri di samping Mamak. Menunggu beberapa saat lamanya di dalam. Mamak tak tahu menunggu untuk apa, yang lain pun tidak tahu apa yang akan dilakukan polisi-polisi gagah itu.
Akhirnya waktu yang ditunggu tiba. Ada sembilan orang pelajar masuk ke dalam. mereka dibariskan sesuai barisan orang-orang yang duduk itu. Kepala mereka tertutup kantung kain berwana hitam. Lalu mereka berdiri menghadap orang-orang yang duduk itu. Dua orang polisi bertugas melepaskan kantung di kepala masing-masing pelajar.
Pelajar yang sudah terbuka. Tersengal menangis histeris bersujud di kaki orang-orang itu yang ternyata adalah orang tua mereka. Tak terkecuali Radit yang menangis sejadi-jadinya memohon maaf, bersimpuh di kaki Mamak.