BAB empat belas – jalan datar cenderung gelap
...Tak mengapa berjalan di tempat yang penting berusaha,
daripada berjalan cepat dengan cara yang salah, menghalalkan segala cara.
Biasanya orang yang cepat naik cepat pula turunnya...
Ada orang-orang yang diberikan keuntungan besar di dunia ini. Ada orang dengan priviledge tingkat dewa, semisal punya wajah good looking, harta melimpah, jabatan setinggi harapan kaum kebanyakan. Ada orang dengan jabatan dan harta mentereng tapi wajahnya biasa saja. Tetapi dengan jabatan ditangan dan harta melimpah, orang akan tunduk padanya. Ada orang yang cakepnya sekelas pangeran dari negeri dongeng atau cantiknya selevel bidadari, tetapi tidak punya kekuasaan apapun. Namun orang lain tetap akan menghargainya karena wajahnya enak dilihat. Ada orang yang diberikan keuntungan terkoneksi orang-orang berpengaruh.
Dibalik orang-orang yang beruntung itu, Ada orang yang bahkan tidak dihargai sama sekali oleh lingkungannya. Yaitu orang-orang dengan keterbatasan financial sekaligus tidak berwajah istimewa. Mungkin takdir yang diterimanya akan disesalinya seumur hidup. Mungkin akan menyesal telah terlahir ke dunia. Mungkin akan terus menyalahkan Tuhan yang katanya Maha Pemberi. Maha Pemurah. Maha Penyanyang. Mungkin selamanya tidak akan bahagia.
Hidupnya tentu akan berat dijalani.
Semua itu adalah jalan tidak terduga dari sang pencipta takdir kehidupan.
Diantara orang-orang itu ada yang bisa memanfaatkan keadaan. Ada yang tidak. Semua itu sebab manusia selalu disediakan pilihan. Pilihan merubah takdir. Yang lain memilih menjalani apa adanya. Namun ada pula yang berjuang tiada henti meski tujuan masih teramat jauh digapai. Karena kehidupan yang layak belum bisa diraih.
Diantara banyaknya orang yang berjuang. Terselip keluarga Mamak Ningsih. Perjuangan hidup yang tidak pernah berhenti semenjak menikah dengan suaminya yang kini sudah pergi entah kemana.
Mamak Ningsih belum pernah merasakan kehidupan sebaik saat ini. Meski kehidupan masih jauh dari kelayakan. Namun berbanding terbalik dengan kehidupan kala semua anaknya masih sekolah. Saat ini Mamak dibantu dua anaknya yang bekerja sangat keras untuk menaikkan derajat kehidupan. Biar tidak disepelekan orang lagi. Tidak enak rasanya diremehkan orang.
Kenapa orang cenderung memandang orang lain dari apa yang dimilikinya. Heran sekali dengan kehidupan ini.
Bahkan sekelas seorang pemuka agama pun akan memandang terhormat mereka yang dibekali kelebihan harta. Meski tidak ada kontribusinya bagi masyarakat sekitar.
Sangat tidak adil.