BAB lima belas – mengolah pikiran
...Hidup itu keras.
Yang mampu bersainglah yang akan bisa bertahan.
Dan yang mampu bertahanlah yang akan memenangkan kompetisi sepanjang hayat...
Panas menyengat di jalan tol yang tak ramai. Fatamorgana menghias beberapa puluh meter di depan, terlihat ada bayangan air di tengah terik yang menyengat. Indah bak bayang semu kehidupan. Adalah Raka yang selalu tak habis pikir sepanjang perjalanan. Apa yang ia kerjakan sampai saat ini belum tahu. Menjadi asisten, hanya sekadar menemani, sementara kerjanya lebih banyak mengantar barang. Itu pun tak pernah jelas barang apa.
Sering kali Raka selalu curiga. Tetapi berkali pula dihadang pikiran yang positif. Ia masih membutuhkan pekerjaan ini. Mengingat lebih dari empat tahun menganggur membuatnya jengah dengan kehidupannya sendiri.
“Masih jauh, pak?” Bu Ratri membuka obrolan setelah sepanjang perjalanan diam tanpa kata. Bahkan Raka hanya sesekali mengajak Pak Supir berbicara. Selebihnya sunyi mendengarkan suara mesin yang masuk ke kabin.
“Sekitar sepuluh menit lagi keluar pintu tol, Bu,” jawab Pak Supir sambil terus menatap ke depan. Tidak ada sanggahan lagi, diam seperti tadi, canggung menghadang seisi mobil. Raka mengintip Bu Ratri dari kaca spion tengah, wajah wanita itu dingin, matanya tajam menatap lurus ke jalanan di depan.
Mobil itu meluncur menuju satu tempat. Ke rumah dengan penjagaan yang ketat. Ada tiga orang tinggi besar berdiri memakai baju safari hitam berjaga di depan dekat pintu gerbang. Kalau dilihat dari perawakannya, tiga orang penjaga itu bukanlah sekuriti biasa. Otot-otot di tubuhnya terlihat menyembul seperti sering berlatih angkat beban. Wajahnya terpoles sangat seperti terlatih pendidikan kemiliteran.
Pak Supir memarkirkan mobilnya di sudut halaman yang luas. Lantas Bu Ratri mengajak Raka masuk.
Rumah yang dimasukinya bak istana di dunia modern. Benar-benar pemandangan nyata baginya. Rumah yang dilengkapi dengan perabotan kelas wahid. Berdindingkan batu alam yang langka. Berlantaikan pualam seperti lantai kaca, dapat memantul jernih bayangan di atasnya.
Raka dan Bu Ratri masuk dan duduk di sofa. Raka memandang ruang tamu yang luasnya berkali lipat dari rumahnya. Sungguh tak habis pikir, kenapa ada orang yang kekayaannya bisa tak terhitung jumlahnya. Dan kenapa ada orang yang kemiskinannya berada di bawah titik nadir. Sampai terseok hingga berdarah untuk bertahan di dunia yang kejam ini.
Apakah hidup itu adil. Apakah semesta itu pilih kasih. Apakah semua orang harus menerima takdirnya.
Mugkin tidak menerima. Tetapi kalau menjalaninya dengan tertekan, akan berat hidup ini. Tapi kalau dijalani penuh rasa sukur, tak terasa hidup begitu sulit. Ada sebagian orang yang terlahir dengan takdir menyenangkan. Dan ada sebagian besar orang yang dilahirkan dengan takdir mengenaskan. Dan kalau menerima takdirnya. Tinggal bagaimana caranya orang itu, mau mengubahnya atau tidak.
Setelah menunggu sekian lama. Keluarlah seorang wanita sebaya Bu Ratri. Ia menyapa ramah dan menyalami hangat. Lalu duduk saling berhadapan. Dua wanita itu berbasa basi layaknya dua orang yang sudah lama tidak bertemu, akhirnya berhenti ketika seorang pria paruh baya keluar dan menemui tamunya.
Pria itu tersenyum pada Raka. Ternyata Pak Sastra.
Raka malihat terperangah. Pria setengah baya di hadapannya adalah orang yang menyuruhnya mengantarkan sebuah koper. Dan orang yang memiliki rumah mewah di Jakarta. Dan di kota ini ia juga memiliki rumah yang tak kalah mewahnya. Luar biasa.
“Raka! Apa kabar?” Pak Sastra menyalaminya. Ia terkekeh rendah. Lalu menepuk-nepuk bahu Raka. Pak Sastra mengenalkan wanita disampingnya, yang ternyata istrinya. Bu Susan nama wanita itu. Datang seorang wanita berseragam biru dengan celemek putihnya, membawa baki berisi empat cangkir minuman. Wanita berseragam itu meletakan secangkir kopi di atas meja. Ke masing-masing orang yang duduk di ruang tamu itu. Gerakannya sangat teratur dan terlatih. Seperti sudah mendapatkan pelatihan berminggu-minggu.
Raka memperhatikan cangkir berisi kopi hitam di depannya. Penuh kecurigaan. Sedikit ketakutan. Dan ia juga melihat ke luar melalui dinding kaca bertirai setengah, dua orang tetiba berjaga di depan pintu. Padahal sewaktu masuk ke rumah ini, tidak ada dua orang itu. Pakaiannya pun sama. Mengenakan safari hitam.
“Ba-baik, Pak,” jawab Raka terbata, sedikit terlambat. Pak Sastra tertawa lebih keras. Menatap Raka yang terlihat grogi. Bu Ratri tersenyum tipis seraya meminum secangkir kopi. Bu Ratri itu tipe wanita yang sangat addict dengan kopi hitam. Dalam sehari dia bisa menghabiskan setengah lusin cangkir kopi hitam.
“Ayo diminum kopinya, Raka,” ujar Bu Susan. “Tenang saja, itu kopinya aman. Tidak mengandung obat tidur apalagi sianida,” tambah Bu Susan dibarengai tawa sekumpulan orang berusia menjelang senja itu. Bu Susan seakan bisa membaca raut wajahnya.