BAB enam belas – keluarga itu segalanya
...Keluarga adalah harta terindah dalam mengarungi hidup.
Meskipun ada beberapa keluarga yang menjadi musuh terbesar seseorang,
Namun hanya keluargalah yang akan memberikan kenangan tak terlupakan...
Wajah Mamak terlihat gembira tak terkira setelah mendapatkan bagian setengah dari upah yang dibayarkan Bu Ratri ke Raka. Batuk-batuknya hilang sesaat. Perasaan bahagia rupanya menjadi obat buat Mamak. Sempat bertanya dari mana Raka mendapat uang sebanyak itu, dan anak pertama itu hanya menjawabnya bonus, karena sering bertugas di pagi buta.
Mamak tidak ambil pusing dengan jawaban Raka. Ia menyimpan uang itu. Kelak kalau anak-anaknya butuh akan dipakainya untuk membantu mereka. Empat pion itu sudah menjaganya sejak kepergian sang suami bertahun lalu. Itulah caranya membuat keluarga ini tetap hidup. Mamak mengajarkan bagaimana caranya bertahan dan saling membantu.
Keinginan anak pertamanya mengajak pelesiran sekeluarga disambut baik Mamak. Pelesiran itu memang sangat dibutuhkannya mangingat kesehatannya yang memburuk akhir-akhir ini. Mencari udara yang menyegarkan. Raka segera memberitahu Rindu. Tidak perlu waktu lama menjawab, Rindu langsung setuju. Dan kebetulan sudah memasuki liburan sekolah. Radit dan Rasya bisa menikmatinya tanpa ada beban keletihan saat masuk sekolah.
Sungguh heran, sudah beberapa menit hingga hampir sejam tidak terdengar batuk Mamak. Apa Mamak benar-benar bahagia dengan ajakan Raka.
“Aku cuma dapat tiga hari libur, Mak. Jadi besok kita langsung berangkat.” Raka segera mencari tiket dan hotel untuk menginap selama dua malam. Dibukanya aplikasi penjualan tiket online yang baru saja diunduhnya. Raka memesan lima tiket kereta api. Satu kamar hotel tipe keluarga yang tidak jauh dari Stasiun. Tujuannya adalah kota Bandung. Sudah lama ia ingin mengajak keluarganya ke kota itu. Udara sejuk di sana bisa menjernihkan pikiran.
Di sore ini, Rindu pulang membawa banyak makanan yang dibelinya di supermarket tempat ia bekerja. Untuk bekal selama perjalanan dan liburan. Ia meminta izin mengambil cuti dadakan. Ajakan Raka disambutnya cepat karena ia ingin menghindari dua orang pria yang sedang bersaing ketat memperjuangkan dirinya.
Esok pagi-pagi sekali mereka akan berangkat ke Stasiun. Berbekal uang dari Bu Ratri, Raka akan menyenangkan hati Mamak dan adik-adiknya.
Malam ini akan menjadi malam terpanjang karena esok kan dinanti. Perjalanan pertama bersama keluarga ini walaupun kota yang dituju tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu beberapa jam saja menggunakan kereta api.