AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #18

Keluarga Itu Tempat Berbagi

BAB tujuh belas – keluarga itu tempat berbagi


...Cinta pertama kita sebagai manusia sejak dilahirkan adalah orang tua,

selanjutnya keluarga.

Barulah sahabat, teman sejati dan orang sepintas lalu...


Hari-hari berikutnya, Raka bergelut kembali dengan tugas yang semakin berat. Ia tidak lagi mengantar barang di dalam kota. Ia juga mengantar barang keluar kota. Parahnya, setiap tugas keluar kota ia harus menginap di hotel yang telah ditentukan Bu Ratri. Ke hotel itupun diantar Pak Supir, dengan segala peraturan ketat selama menginap di sana.

Hari-hari berikutnya, Rindu bergelut dengan ketidakpastian hubungannya dengan Steven. Ia sudah berbicara padanya menolak tawaran mengikuti prinsip keluarga Steven. Bukannya mundur, lelaki keturunan chinesse itu justru semakin getol pada gadis itu. Ia tidak akan melepaskan Rindu. Steven akan mencari jalan keluar lainnya. Sementara Saga juga tidak kalah gigihnya mendekati Rindu. Ia sudah bisa menyelami perasaannya. Saga tahu sampai sejajuh mana perasaan Rindu pada dirinya, begitu menurut pengamatannya sendiri. Jadi Saga juga tidak akan melepaskan gadis itu.

Hari-hari  berikutnya, Mamak Ningsih semakin menderita. Batuknya semakin menjadi. Nyeri di dadanya semakin menyesakkan. Napas terhambat, seakan ada yang menggumpal di dadanya. Bunyi seperti dengkuran pelan selalu terdengar tiap kali bernapas. Namun Mamak masih menutupi itu semua. Belum sempat pula periksa ke dokter. Sementara hari-hari bagi Radit dan Rasya sama seperti hari-hari kemarin. Sekolah dan belajar. Radit sudah tidak diizinkan mencari uang di jalan. Rasya, terus dimintai menemani Mamak begitu pulang sekolah. Hanya Rasya yang jadi andalan Mamak untuk disuruh-suruh.

Keluarga ini sangat sibuk dengan urusannya masing-masing. Namun tidak saling membuka diri oleh urusannya. Raka menyembunyikan rahasia pekerjaannya yang memang ia sendiri belum tahu pasti. Rindu menyembunyikan hubungan bermasalahnya dengan Steven dan Saga. Lalu radit? Masih sering melakukan tawuran tanpa Mamak dan kakak-kakaknya tahu.

Semua punya rahasiannya sendiri. Kecuali Rasya tidak punya rahasia apapun. Anak itu bahkan belum lulus Sekolah Dasar. Masih piyik, masih belum mengerti dunia yang sesungguhnya.

***

Selepas pulang dari tugasnya. Raka kembali ke rumah besar itu. Memarkirkan motornya lalu masuk ke dalam. Ia tahu Bu Ratri sudah menunggunya, karena Pak Supir dan mobilnya ada di halaman depan. Masuk langsung ke dapur, dilihatnya tiga orang wanita ada di sana. Tengah membuat sesuatu sambil menghisap sebatang tembakau perusak paru-paru. Asap-asapnya memenuhi ruangan. Menyesakkan penapasan. Raka yang seorang perokok saja terganggu dengan banyaknya asap yang mengebul mengotori udara di dapur yang berpendingin ruangan itu.

“Maaf. Kalian siapa ya?” tegur Raka. Bukannya menjawab, tiga orang wanita itu justru tertawa cekikikan. Menyeramkan.

“Ganteng juga,” ucap salah seorang wanita itu. Dibarengi tawa yang lainnya. “Lumayan nih. Buat guling kalo malam.” Tawa tiga wanita itu semakin keras. Sekarang mengesalkan Raka.

“Kamu pasti tidak tahu ya. Hampir tiap malam kita di sini,” ucap wanita yang satunya. Tawa ketiga wanita itu semakun keras saja. “Ngapain kita guys?”

“PARTY!!” serempak ketiganya berteriak sembari merentangkan tangannya. Lalu mereka jejingkrakan bertiga.

“Hampir tiap malam?” selidik Raka. Salah seorangnya mengangguk.

Berarti yang aku lihat sewaktu menginap itu mereka. Dan pagi-pagi melalui jendela depan juga mereka. Dan suara ketawa dari salah satu kamar juga mereka?

Awalnya Raka masih menganggap adanya makhluk tak kasat penglihatan di rumah ini. Tetapi dirinya lega kalau itu bukan. Yang dimaksud mereka party itu, pesta apa. Apakah pesta sekadar pesta semata, atau ada bumbu-bumbu yang menyertainya.

Lihat selengkapnya