BAB delapan belas – yang kedua kalinya
...Seseorang yang kamu cintai,
Bisa menjadi penghancur harapanmu...
Beberapa saat sebelum masuk ke kamar, Rindu berpura-pura ketinggalan barang di meja concierge. Kesempatan itu ia jadikan waktu bertanya, kamar berapa yang sudah dipesan. Setelah diberi tahu nomor kamarnya ia mengirim pesan pada Saga, ia ingin membuktikan ucapan Saga itu tidak benar. Dimintanya Saga datang ke sini mengecek sendiri kegiatan dari divisinya bersama Steven.
Dan sekarang, di kamar hotel ini. Rindu tengah ketakutan. Pria di hadapannya berubah laiknya manusia serigala, siap memangsanya. Rindu mundur beberapa langkah. Steven semakin mendesaknya.
Rindu tersudut.
Wajahnya ketakutan. Tubuhnya gemetaran. Tidak pernah terpikirkan akan mengalami kejadian seperti ini lagi. Ia menduga inilah cara Steven memaksanya menikah dengan dirinya, sekaligus mengikuti prinsip keluarganya.
Rindu berdiri goyah di samping tempat tidur. Lututnya lemas. Steven sudah berdiri di hadapannya. Berjarak hanya satu langkah. Tidak ada barang di dekatnya yang bisa dijadikannya senjata. Hanya bantal empuk yang tidak mungkin bisa menolongnya.
Selagi Rindu sudah pasrah, tidak tahu mau berbuat apa. Pintu kamar terketuk dari luar. Steven menghentikan aksinya yang belum terlaksana. Hasrat yang sudah di ujung kepala di tundanya.
Laki-laki itu sempat mengintipnya dari lubang pintu, tetapi tidak dilihat sesiapa di luar. Dibuka pintu itu. Tetiba tubuhnya didorong paksa kembali masuk ke dalam. Dua orang masuk. Yang satu, yang mendorongnya langsung menghantamkan kepalan keras tangannya tepat di hidung Steven, dialah Raka. Sementara satu orang lainnya langsung menutup pintu, Saga.
Sebelumnya, Saga telah meminta izin pulang. Ia tidak benar-benar pulang. Pergi ke rumah Raka, lalu memberitahu hal yang dicurigainya.
“Lu mau apain adek gue, hah!”
Tergagap Steven menjawabnya. Rindu berlari menghampiri Saga.
Emosinya telah memuncak, Raka kembali melayangkan tinjunya di wajah Steven. Pria itu terhuyung ke belakang. Mengangkat tangannya memohon ampun.
Hantaman yang ketiga kalinya di wajah Steven, tak pelak mencederai wajahnya lebih parah. Kalau saja tidak dicegah Saga, pria itu sudah jadi bulan-bulanan Raka. Rindu mengancam akan mengadukan perlakuan yang telah melecehkannya ke manajemen tempatnya bekerja. Bukan itu saja, ancaman pelaporan pada kepolisian terlontar spontan. Walaupun ancaman itu bisa pula mengancam kakaknya atas tindakan kekerasan.
Raka memang sosok kakak pelindung keluarga. Kehilangan Bapak menempa dirinya menjadi laki-laki keras dan tegas, tetapi sangat menyayangi keluarga.
Keluar dari hotel, Rindu lega luar biasa karena terselamatkan. Ia sempat bertanya kenapa Saga bisa membawa Raka ke sini.