BAB sembilan belas – ujian itu nikmat rasanya
...Tuhan itu maha segala-galanya.
Ketika kita sedang terpuruk, bukan berarti Tuhan sedang marah.
Dia hanya ingin kita bersabar, ikhlas menerima takdir, dan menjalaninya dengan ketulusan.
Tuhan hanya sedang rindu pada kita, hamba-Nya...
Hari-hari berikutnya perhatian ke Mamak semakin berkurang. Semuanya menyibukan diri dengan urusannya. Rindu sibuk melupakan pria berengsek, Steven. Raka berkutat dengan tugas misteriusnya. Radit kelihatannya sibuk dengan urusan sekolah dan belajar. Hanya Rasya saja yang perhatian pada Mamak. Memang tidak ada yang bisa diperbuatnya lagi diusianya yang masih kanak-kanak.
Mamak Ningsih berjuang sendiri pagi ini. Yang lain sudah berkutat dengan. Hingga hari ini Raka yang berniat mengajaknya ke Dokter sudah tidak ingat lagi dengan janjinya pada diri sendiri.
Batuk-batuk Mamak semakin parah. Kadang Mamak tidak bisa menahannya lagi. Disepanjang tadi malam sudah berusaha ditahannya, tapi tak sanggup juga. Sesekali dilepas maskernya. Air hangat membantunya melepas tekanan di tenggorokannya, yang membuat dadanya nyeri, sakit dan menyiksa.
Sekali waktu, batuknya teramat berat. Terlepaslah ganjalan yang membuatnya teramat sesak. Ada bercak darah yang keluar di telapak tangannya. Mamak diam sejenak, melihat bercak darah itu. Lalu terburu mengelap tangannya dengan tisu basah. Cepat-cepat dibersihkan tangannya.
Kembali dipakainya masker. Mamak tidak mau ada jejak bakteri Mycobacterium Tuberculosis di sekitar sini yang bisa saja menulari anak-anaknya, karena bakteri itu bisa menular melalui udara dan kontak tidak langsung, bisa melalui benda-benda yang telah terkontaminasi lewat udara dari batuk-batuk Mamak. Ya, Mamak Ningsih mengidap TBC. Makanya ia sembunyikan hasil diagnosa itu. Tetapi ia tidak tahu kalau TBC-nya itu sudah sedemikian parah. Tak lupa di setiap sudut rumah disemprotkan disinfektan yang juga dibelinya ketika memeriksakan diri.
Dan Mamak kembali bekerja. Mencuci dan menyetrika laundry-an yang sudah menumpuk di pekarangan.
Mamak teringat dengan penjelasan Dokter kalau batuknya sudah keluar darah, berarti sudah ada di stadium empat yaitu TBC paru lanjut. Meskipun perlu pemeriksaan mendalam, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan radiologi. Tetap saja Mamak kepikiran, bayang-bayang menakutkan menghantuinya.
Mamak akan kembali lagi ke dokter secepatnya, kalau semua pakaian di keranjang-keranjang itu sudah beres. Kerja keras sekali Mamak. Benar-benar tidak ingin memberatkan anak-anaknya. Tidak mau ada yang jatuh mentalnya karena tahu kondisi sebenarnya.