BAB dua puluh – tantangan baru
...Rezeki tidak terduga selalu datangnya tidak tahu waktu.
Kapan dan dimana tidak ada yang bisa menebaknya,
Semua adalah pemberian dan kemurahan-Nya...
Mamak Ningsih duduk menunggu di bangku besi panjang di luar laboratorium. Ia baru saja diperiksa lebih lanjut setelah hasil rontgen diberikan ke Dokter spesialis. Sangat njelimet pemeriksaannya. Di laboratorium itu, Mamak diperiksa dahaknya untuk mendeteksi bakteri Mycrobacterium Tuberculosis. Di laboratorium itu juga Mamak diambil darahnya untuk melakukan tes interferon-gamma atau untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri TBC. Dan pemeriksaan ketiga di laboratorium itu adalah dengan biopsi.
Pemeriksaan yang ketiga ini sedikit menyakitkan selama proseduralnya. Biopsi TBC adalah prosedur medis untuk mengambil sampel jaringan dari paru-paru atau kelenjar getah bening yang terinfeksi bakteri TBC. Tujuan pemeriksaan ini untuk diagnosis lebih lanjut, menentukan jenis TBC –paru-paru atau ekstraparu, dan untuk indentifikasi resistensi obat.
Cara biopsinya ini yang bikin Mamak tidak nyaman, memasukkan jarum atau alat biopsi melalui kulit dan dinding dada untuk mengambil sampel jaringan paru-paru. Itu baru biopsi paru-paru. Masih ada biopsi kelenjar getah bening, pun dengan cara yang sama. Hanya bedanya, pengambilan sampel yang kedua pada jaringan kelenjar getah bening yang rusak.
Rasa sakitnya baru dirasakan Mamak Ningsih setelahnya. Itu adalah salah satu efek sampingnya. Selama prosedur biopsi, Mamak diberikan obat bius.
Ia duduk termenung memandang tak beraturan. Sesekali memandang pasien lain yang juga sedang menunggu. Sesekali melihat kerumunan keluarga yang berlari terburu mendorong anggota keluarga yang terduduk lemah di kursi roda. Atau ia memerhatikan eksibukan bagian pelayanan pendaftaran. Rumah sakit itu begitu ramai, tapi siapa sangka mereka seperti orang-orang yang tak punya masa depan. Bersandar lemah memandang kosong.
Beberapa pasien ditemani keluarganya juga baru keluar dari laboratorium. Diperhatikan dengan seksama. Orang itu beruntung, ditemani anaknya atau keluarganya. Sementara Mamak Ningsih sendirian ke rumah sakit ini. Ini memang yang Mamak mau. Tidak perlu ada anak-anaknya yang tahu. Sekali lagi, ia tidak mau anak-anaknya khawatir. Apalagi menyusahkan mereka.
Di balik maskernya, sendu mata menyorot lemah. Tak ada lagi senyuman khasnya. Mamak sudah tenggelam dengan penyakitnya. Yang sewaktu-waktu bisa saja sang pencabut nyawa menjemputnya. Seliweran pikiran seperti yang terjadi di kepalanya saat ini. Mamak tak benar-benar hidup. Mati pun belum siap.
“Bu Ningsih!”
Seorang perawat memanggilnya. Dari kursinya Mamak Ningsih menoleh lemah. Ia berdiri setelah perawat itu menyodorkan tangannya ramah, membantunya masuk ke dalam labotarorium. Dokter sudah menunggu. Mamak duduk, gerakan tubuhnya melambat.
“Bu Ningsih, kita sudah melakukan semua prosedur. Hasilnya akan keluar maksimal tujuh hari. Jadi Ibu sekarang pulang saja. Istirahat. Jangan lupa selalu pakai masker, jaga jarak bicara dengan anak-anak Ibu. Dan obatnya harus diminum teratur ya, Bu.”
“Iya Dok.”
Mamak Ningsih melangkah keluar, tubunya lemah. Meninggalkan Rumah Sakit juga berat. Ia kehilangan motivasi untuk saat ini. Tidak ada dorongan semangat dari sendiri. Mamak Ningsih sudah membayangkan berbagai kesulitan ke depannya. Disaat ekonomi keluarganya sudah membaik. Ditambah usaha laundry-nya yang semakin ramai. Tetapi Mamak hidup sendiri justeru melandai ke titik nadir. Titik yang tidak pernah dibayangi sebelumnya.
Helaan napas panjang menandakan kepasrahannya. Mamak sudah duduk di taksi yang akan mengantarnya pulang. Sesekali terbatuk karena sudah tidak bisa ditahannya lagi.
Hari yang melelahkan. Sekaligus menakutkan. Berbagai perasaan negatif berkecamuk. Sampai di rumah, Mamak beristirahat. Dua anaknya yang masih sekolah belum pada pulang. Plang laundry tutup, tidak digantinya. Mamak ingin istirahat sesuai anjuran Dokter. Tetapi ia lupa meminum obatnya. Sudah keburu tidur.