AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #22

Bidak Takdir

BAB dua puluh satu – bidak takdir


...Hidup senang dan susah sudah menjadi garis yang dikehendaki-Nya.

Tak perlu ada penyesalan, tak perlu ada prasangka buruk,

Semua akan berjalan sesuai kemauan-Nya.

Manusia hanya menjadi bidak yang harus siap mengikuti aturan-Nya...


Hari yang tidak ditunggu-tunggunya tiba juga. Hari yang tidak siap disapanya. Pagi kelam dalam hidupnya. Mamak Ningsih akan kembali ke Rumah Sakit. Menemui dokter di laboratorium. Mengambil hasil diagnosanya. Ia akan pergi setelah semua anaknya berangkat kerja dan sekolah. Pakaian-pakaian yang di-laundry di tempatnya, sudah diselesaikan kemarin.

Hari ini seperti hari sebelumnya. Seperti hari-hari yang lalu. Yang sudah dijalankan beberapa bulan. Raka sudah berangkat sebelum ayam jantan membangunkan warga dengan suaranya yang serak. Rindu? Pagi-pagi sekali sudah meninggalkan rumah, memang tidak seperti biasanya. Hanya sejam setelah jamaah masjid di dekat rumahnya pulang salat. Bahkan sebelum Radit dan Rasya pergi ke Sekolah. Rindu sangat bersemangat menjalani hari ini. Berbanding terbalik dengan Mamak. Gadis itu sangat antusias. Hari ini adalah hari dimana pengumuman dirinya naik jabatan. Menjadi Manajer Floor.

Dua anak pertamanya semakin sibuk. Tidak lagi memerhatikan kondisi Mamak yang semakin kepayahan.

Setelah berjuang datang Rumah Sakit sendiri, Mamak lalu duduk menunggu di bangku depan laboratorium. Ia tak lagi fokus pada hasil diagnosa nanti. Menunggu kali ini dinikmatinya. Sekarang ia ingin lebih lama duduk hingga berharap Dokter lupa memberikan hasilnya. Atau hasil lab itu hilang, terselip atau terbuang.

Namun Mamak juga pasrah, seakan sudah tahu hasilnya.Di ruang laboratorium Mamak menangis. Di depan Dokter yang memperlihatkan hasilnya. Sedu sedan suaranya terdengar meski bermasker. Ya, Mamak telah diberitahu hasil diagnosanya. Positif sudah ditampakkan oleh Dokter di selembar kertas putih dengan keterangan-keterangan yang ia tidak mengerti.

Dokter itu melipat kertas dan dimasukkan ke dalam amplop, diberikan ke Mamak. Dan Mamak hati-hati memasukkannya ke dalam tas yang dibelikan Rindu di tempat kerjanya.

Dokter itu juga menyarankan untuk berpisah tempat tinggal dengan anak-anaknya. Mengisolasi diri. Mamak hanya diam. Tidak mungkin ia meninggalkan anak-anak yang sangat ia sayangi.

“Yang terpenting. Jangan sampai lupa minum obat ya, Bu Ningsih. Itu sebagai ikhtiar kita pada yang Maha Kuasa. Dan jangan lupa berdoa.” Mamak mengangguk mengerti. Ya, ikhtiar pada yang Maha Kuasa. Sudah berapa lama ia melupakan-Nya. Dan malu rasanya dalam kondisi seperti ini ia baru mengingat-Nya. Tetapi perkataan Dokter ada benarnya. Perlu ikhtiar. Dibarengi dengan Doa.

Apa Tuhan akan mendengar doaku. Sementara aku tak pernah menyapanya ketika keadaanku baik-baik saja. Batinnya meronta sedih.

Kesedihan yang tersembunyi dari balik masker, namun Mamak tak bisa menyembunyikannya dari gerak tubuh yang seakan menggambarkan keputusasaan. Mamak masuk ke dalam toilet setelah berjalan belasan meter. Masih di Rumah Sakit itu.

Dari dalam biliknya, Mamak melepas maskernya. Lalu menangis sejadi-jadinya. Menangisi takdirnya.

***

Jam 09.30 pagi, Rindu sudah berdiri di samping Ibu HRD dan Bapak Manager Operasional. Sebagian karyawan juga telah berdiri di sana. Sebagian lagi sedang bergegas menuju sambil tertawa, pergunjingan tentang Rindu masih saja berlangsung.

Setelah berkumpul seluruh karyawan yang jumlahnya lebih dari enam puluh orang terlihat ramai sekali karena semua karyawan diminta datang pagi ini. Setiap bulannya selalu diadakan monthly briefing untuk mereka yang masuk di shify pagi. Kegiatan ini sudah dilaksanakan sejak Supermarket ini berdiri, gunanya untuk mengetahui perkembangan tiap divisi. Juga memberikan informasi dari manajemen jikalau ada program promo dan diskon.

Rindu bergabung dengan bawahannya di divisi kecantikan.

Ibu HRD dan Bapak Manajer Operasional memberikan arahan tentang banyak hal. Ia juga mengumumkan laporan penjualan semua divisi. Dan divisi Rindu mendapat kredit positif karena sejak ia menjadi Supervisor, penjualannya meningkat tajam. Sementara divisi-divisi lain ada yang turun ada yang naik.

Sebuah plakat penghargaan diterimanya. Tepuk tangan dari sebagian karyawan lainnya membahana. Sebagian lainnya menatap iri.

Lima belas menit setelah memaparkan arahan dan laporan kepada karyawannya. Bapak Manajer Operasional itu memanggil Rindu maju ke depan. Sebelumnya ia memaparkan lebih detil perkembangan pesat divisi kecantikkan. Promo-promo yang diajukan Rindu sangat tepat hingga bisa menaikan omset penjualan. Sampai penjelasan di sini, Jantung Rindu semakin berdetak tak karuan menanti pengumuman itu. Sempat dilirik sekilas Saga, dan karyawan lainnya. Ada rasa cemburu atas pencapaiannya.

“Dan sekarang kami ingin mengumumkan sesuatu yang penting.” Semua mata tertuju ke Ibu HRD itu. “Kami telah berdiskusi panjang lebar. Berminggu lamanya. Dalam beberapa hari ini, yaitu mengenai kekosongan posisi yang ditinggalkan Pak Steven secara mendadak. Kekosongan ini tentunya menimbulkan lubang kinerja di Supermarket pusat ini.”

Jantung Rindu dua kali berdetak lebih cepat.

“Oleh sebab itu, kami perlu mengisi kekosongan ini dengan seorang karyawan yang kami anggap pantas memangku jabatan ini.”

Lihat selengkapnya