BAB dua puluh dua – sesak napas
...Hidup harus dianggap serius,
Walaupun yang datang ke kita seringnya bercanda...
Radit menangis memeluk Mamak. Ia terus menggoyang-goyangkan tubuhnya. Kata-katanya terucap manis laiknya janji pria pada seorang gadis. Radit tidak akan tawuran. Radit tidak akan membangkang. Radit tidak akan bolos sekolah. Radit akan patuh. Ya begitulah ketika nasehat tidak pernah bisa melunakkan hati seseorang, hanya membutuhkan satu kejadian untuk bisa melubangi jiwanya. Penyesalan selalu saja datangnya terlambat.
Namun Radit tak pernah mengetahui yang sesungguhnya, kenapa Mamak jatuh pingsan. Yang ia tahu, Mamak pingsan karena melihat wajahnya ternodai lebam. Oleh sebab itulah Radit berkali memohon ampunan pada Mamak.
Di ruang kesehatan, Mamak masih terbaring lemah. Saat sadarkan diri ia meminta maskernya. Petugas kesehatan di sana sempat melarangnya agar Mamak mendapat asupan udara segar. Namun Mamak bersikeras ingin memakainya. Apalagi di depan Radit.
Sambil menahan batuk, Mamak bangun dan duduk bersandar. Radit langsung memeluk kakinya. Menciuminya.
“Radit, sudah.. sudah...”
Ibu mana yang tega melihat anaknya terhukum dua kali. Di kantor polisi yang sama. Dengan kasus yang sama. Mamak mengelus-elus kepala anak ketiganya itu. Kali ini kepala itu tetap berambut. Tidak dibotaki Polisi.
Setelah kuat, mereka digiring kembali ke ruang interogasi. Radit mendengar berkali-kali Mamak terbatuk. Rasa bersalah semakin menderanya.
Di ruang interogasi, Polisi meminta Radit menandatangi surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi. Kalau sampai mengulangi yang ketiga kalinya akan terancam hukuman kurungan. Mamak sebagai saksinya juga diminta menandatangani surat itu.
Radit dinasihati polisi. “Kamu tidak kasihan sama ibu kamu. Lihat ibu kamu, sedang tidak sehat tetap datang ke sini. Mau membebaskan kamu”
Radit menunduk malu.
Setelah itu, Polisi meminta semua yang tertangkap pulang. Satu per satu, tidak boleh berbarengan. Takut terjadi pertikaian lagi di jalan. Sebelum pulang para pelajar itu bersalam-salaman dan pelukan.
“Masa depan kalian jauh lebih penting dari tawuran.” Begitu nasihat polisi yang menginterogasi mereka.
Perlahan menyepi Kantor Polisi itu. Bapak Polisi yang tadi menginterogasinya hanya terkekeh rendah. Mengingat kembali kala masa sekolah, ia pun pernah tawuran dengan sekolah lain. Budaya seperti itu tidak akan hilang begitu saja selama tidak ada tindakan tegas. Sama halnya dengan budaya korupsi yang semakin merajalela, yang ternyata korupsi sudah ada sejak zaman kolonialisme. Menyedihkan.
Sampai di rumah Mamak langsung masuk kamar. Menenangkan pikiran yang mengganggu. Radit masih merasa bersalah. Masih menganggap diamnya Mamak karena kecewa pada dirinya.
Mamak duduk termenung di kamar. Pun Radit duduk termenung di ruang tamu.