BAB dua puluh tiga – bukan prioritas (lagi)
...Memang benar, surga itu di bawah telapak kaki ibu,
Maka berikan jiwamu untuknya...
Restoran seafood sedang ramai-ramainya penunjung. Restoran yang terletak di wilayah utara ibukota ini, menyediakan olahan masakan dari berbagai macam biota yang diternak nelayan di pinggiran laut. Banyak pengunjung yang memenuhinya. Kebetulan juga esok akhir pekan. Rindu bersama tujuh orang staf divisi kecantikkan sedang menunggu makanan yang dipesannya selesai diolah. Tujuh orang staf yang sebelumnya menjadi bawahannya langsung. Sebagian dari mereka pernah ikut-ikutan membenci Rindu. Namun setelah mengenal lebih dekat, mereka tahu kalau Rindu adalah sosok yang baik dan tidak pernah menciptakan drama di lungkungan kerja itu.
“Makasih ya buat kalian semua. Selama ini sudah membantu saya. Dan kita bisa menjadi tim yang solid.”
Menjelang paruh malam, menjelang tutup restoran tersebut, Rindu dan teman-temannya baru menyudahi acara yang digagasnya itu. Namun mereka tidak langsung pulang, menikmati terlebih dahulu semilirnya angin malam di pantai.
Berjalan-jalan ditengah syahdunya suasana kebersamaan yang akan sulit mereka ulangi. Dengan jabatan barunya Rindu, kesibukkannya pasti akan bertambah. Anggaplah ini sebagai penyegaran sebelum bergulat dengan tangggung jawab yang akan dipikulnya.
Dilihat gawainya, baru terbaca pesan dari Radit. Pesan yang mengusiknya.
Mamak sakit.
Segera ia mengajak teman-temannya pulang. Rindu pun meluncur ke rumah menggunakan taksi yang sudah menunggunya di pelataran parkir reatauran seafood itu.
Surganya sedang tidak sehat. Tak henti terlintas wajah Mamak di benaknya. Bodoh sekali aku, tidak membaca dari tadi pesan Radit. Ia memnyalahi diri sendiri.