BAB dua puluh empat – cinta si anak pertama
...Ia hadir tidak mengabari. Tidak mengirim pesan. Tidak pula menelepon.
Tetapi ketika datang, ia langsung mengetuk pintu hatimu yang kosong, CINTA...
Raka tidak bisa melupakannya gadis yang dia temui di warung kopi lima hari yang lalu. Gadis itu telah memanah tepat di dasar hatinya.
Seorang gadis perantauan dari luar pulau yang baru menetap hampir sebulan di kota ini. Ia bekerja sebagai barista sekaligus waitress. Sesungguhnya bekerja di kedai kopi belumlah mencukupi kebutuhannya, dengan gaji masih dibawah ketentuan kota ini. Tetapi kesempatan mendapatkan pekerjaan di daerah asalnya sangatlah kecil. Sulit sekali. Sari harus berani mencari pekerjaan di daerah lain. Dan kota ini adalah pilihannya.
Banyak sekali perusahaan yang tidak menggaji karyawannya sesuai upah minimal ketentuan dari pemerintah. Seharusnya itu sudah melanggar ketentuan kalau saja pemerintah tegas menanganinya. Ya, mungkin saja pemerintah sudah tegas dengan peraturannya, tetapi orang-orang koruplah yang merusak semuanya. Orang-orang serakah tidak akan pernah cukup. Orang-orang serakah akan terus menambah dan menumpuk kekayaannya. Dengan berbagai cara meski jalan haram sekalipun.
Dan orang-orang seperti Sari yang membutuhkan pekerjaan, rela mendapatkan gaji sebesar di luar ketentuan Pemerintah. Walaupun tidak cukup tetapi akan dicukup-cukupi. Itulah hebatnya orang yang berada di lapisan terbawah. Bisa bertahan dan berkelit dari kesusahan.
Hari itu saat Raka akan kembali menginap di rumah Bu Ratri, ia ketemu lagi dengan gadis itu. Raka memberanikan diri berkenalan. Tak sangka gadis itu tak menutup diri, ia menyebut namanya Sari.
Mereka lama berbincang, saling bercerita tentang dunianya masing-masing. Raka menceritakan pekerjaan, begitupun Sari.
Ceritanya Sari, kenapa ia merantau karena kesempatan terbuka luas di kota ini. Bekerja di kedai kopi ini dijadikan sebagai batu loncatan untuk mencari pekerjaan lainnya. Padahal ia tidak tahu, pesaingnya lebih banyak dari kesempatan itu sendiri.
Sedikit beruntung, begitu sampai di kota ini Sari hanya butuh beberapa hari saja untuk mendapatkan pekerjaan, meski raut wajah kecewa membungkusnya setelah mengetahui penghasilan yang akan dia terima setiap bulannya.
Komunikasi intensif terjalin setelah Raka sempat meminta nomor gawainya. Ada sebaris janji terketik. Malam nanti mereka ingin bertemu.
Mobil Bu Ratri telah meluncur di jalanan. Raka kembali menemaninya. Sekali dua kali ia melihat Bu Ratri dari kaca. Ia tampak gembira menghitung lembar demi lembar uang yang didapat. Terganggu sekali Raka dibuatnya. Selama ini Raka dibuat penasaran, dari mana uang-uang itu. Sekarang ia sudah tahu.
Kemarin malam, setelah mengintip kamar yang menimbulkan suara-suara aneh di rumah itu, Raka menarik kesimpulan kalau bisnis Bu Ratri adalah penjualan barang-barang haram.