AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #26

Terhina Ambisi Hidup

BAB dua puluh lima - terhina ambisi hidup


...Tak selamanya hidup itu penuh kenikmatan surgawi,

Tak selamanya pula hidup itu penuh kesulitan,

Ada kalanya naik, ada kalanya pula menurun...


Keluarga ini sedang krisis kepercayaan pada sang pemberi kenikmatan. Keluarga ini tidak pernah mengingat-Nya. Sekadar bercerita pada-Nya, berkeluh kesah, mencurahkan isi hati. Atau sekadarnya saja menyembah-Nya. Semua sudah terpolusi oleh keinginan dunia yang tidak pernah terpuaskan. Mungkin saja sebab bertahun lamanya dalam ujian telah membuat kebas hati.

Adapun Mamak yang sudah tergerak hatinya mengambil air suci dan emnjalankan kewajiban. Mamak selalu berdoa memohon kesembuhan meski dirasa mustahil. Tubuhnya makin ringkih. Beratnya makin berkurang. Mamak sudah tidak menampakkan diri di depan tetangga. Laundry-nya sudah tutup sejak berminggu yang lalu.

Tidak ada tetangga yang menanyai kabar Mamak. Peduli pun tidak. Sejak mereka terhimpit cobaan hidup hingga keadaan yang lebih baik saat ini. Apalagi Rindu yang sekarang sudah terlihat membawa mobil tiap pergi dan pulang kerja. Ucapan julid tetangga semakin nyata.

“Mamak makin sombong aja, nggak pernah bertetangga.”

Padahal mereka tidak tahu apa yang Mamak rasakan saat ini. Ia tengah berjuang melawan kemustahilan. Berjuang melawan bakteri jahat di tubuhnya.

Seringkalinya, Mamak kangen pada kedua anaknya yang semakin menjauh. Ia hanya dirawat oleh Radit dan Rasya. Sesekali Radit membelikan obat di apotik dengan motor barunya. Membuat iri teman-temannya, apalagi Radit tidak pernah lagi berada di pertigaan. Mencari recehan atau sekadar nongkrong dengan teman-temannya. Itu karena Radit tak pernah berani meninggalkan Mamak sendirian. Sejak Mamak memintanya untuk memisahkan peralatan makannya dengan yang lain, dan memisahkan pakaiannya dengan yang lain saat mencucinya. Sejak saat itulah, Radit mengerti apa yang Mamak rasakan. Penyakit apa yang bersarang di tubuhnya. Radit mencari tahu sendiri, meski Mamak tak pernah bercerita.

Sayang sekali saat kedua kakaknya semakin menanjak, keadaan Mamak semakin menurun.

Matahari hari ini bersinar sangat terik. Debu jalanan bebas berterbangan ke sana ke mari. Kota yang semakin panas karena polusi meningkat. Banyaknya kendaraan yang menyemut menjadi penyebab utamanya. Kendaraan baru pun berjejal mencari celah di jalan yang tak luas. Bagaimana tidak menyemut, banyak warganya yang membeli kendaraan baru tapi tak sebanding dengan pembangunan jalannya.

Katanya daya beli sedang menurun, tetapi kenapa banyak orang yang bisa membeli sesuatu yang bukan kebutuhan utama. Seperti kendaraan itu misalnya. Atau membeli tiket konser dari artis luar yang marak datang ke negara ini. Atau nongkrong-nongkrong di kafe mahal. Gaya hidup mewah tercermin di sosial media. Walaupun kenyataan yang tertampil di social media bisa berbanding terbalik, tapi hidup orang-orang terlihat bahagia-bahagia saja.

Dan diteriknya siang yang sangat menyengat kulit, Raka kembali ditugaskan oleh Bu Ratri mengantar barang. Lumayan jauh, dari bagian selatan ke ujung kota sebelah.

Lihat selengkapnya