AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #27

Jalani Saja, Jangan Dijadikan Beban

BAB dua puluh enam - jalani saja, jangan dijadikan beban


...Menyesal sama saja membunuh secara perlahan jiwamu.

Jangan menyesali yang sudah terjadi.

Fokus saja memperbaiki diri...”


Berkali-kali Raka bisa membungkam orang yang menyakiti keluarganya. Membela Mamak dan adik-adiknya. Tetapi ia tidak bisa membela dirinya sendiri. Kedapatan membawa nol koma lima gram bubuk sabu adalah kesalahan fatal. Meski ia sudah mengatakan kalau ia bukan pemiliknya. Tapi menjadi kurirnya adalah kesalahan. Dalam hal ini Polisi tidak mau tahu kalau Raka dipaksa atau tidak.

Dari polsek pemuda itu dibawa ke lapas dan langsung dijebloskan di sana. Tanpa peradilan terlebih dahulu, sehingga Raka tidak bisa membela diri. Raka akan mendekam selama setahun.

“Kamu langsung di sini saja selama setahun. Tidak perlu pakai pengadilan!” Ucap kasar Polisi yang mengantar.

“Benar. Kalau pakai pengadilan, hukuman kamu maksimal empat tahun penjara. Belum lagi ratusan juta dendanya,” ucap polisi lainnya, tak kalah kasarnya.

“Jadi kamu di sini sekaligus berlindung dari Pak Sastra. Kamu tidak tahu sebengis apa dia,” timpal Polisi yang pertama berucap kasar.

Raka diam saja, tidak mengomentari, atau menyanggah ucapan dua Polisi yang mengantarnya. Ia pikir akan percuma kalau sudah berhubungan dengan orang-orang ini. Semua tahu itu. Tapi apa benar Polisi-polisi ini ingin melindunginya dari Pak Sastra. Memangnya laki-laki itu mau apa, mau membunuhnya? Atau ini hanya alasan Polisi saja yang menjadikannya tumbal agar mudah membuat laporan? permainan macam apa ini!

Ah, mudah saja sekelas Pak Sastra jika ingin mencelakainya. Atau mencelakai keluarganya. Bukankah tempat tinggal Mamak sudah diketahui Bu Ratri. Lantas untuk apa ia dipenjara tanpa diadili. Raka bergidik kala membayangkan seandainya orang-orang suruhan Bu Ratri atau Pak Sastra ingin mencelakai keluarganya.

“Pak boleh saya tanya?”

“Apa?!”

“Apa benar saya akan keluar setelah satu tahun?”

“Kenapa memangnya?!” Bentak salah seorang Polisi itu. “Kamu tdak percaya sama kita, HAH!”

“Bu-bukan ka-kayak gitu. Ibu saya lagi sa-sakit, Pak.” Ketus Raka terbata. Ia merasa dipermainkan. Tidak disidang. Tidak ada keputusan. Tidak ada surat yang harus ditandatangani mengenai hukumannya selama setahun. Kalau setelah setahun mereka ingat untuk mengeluarkannya. Kalau tidak ingat, bagaimana?

Keadaan seperti ini barulah ia teringat Mamak. Ia sedu sedan menangis.

Raka dimasukkan ke dalam sel. Bersatu dengan para pemakai. Bukan pengedar. Di luar, Polisi-polisi itu menertawainya. “Dia tidak tahu, kalau di sidang dia bisa saja bernyanyi.” Tawa Polisi-polisi itu makin kencang.

“Itu yang kita hindari, bukan?” ujar yang lainnya.

“Dan dia tidak tahu. Kalau Bu Ratri itu jongosnya Pak Sastra.” Kembali Polisi-polisi itu tertawa sembari membayangkan bayaran yang akan mereka terima nanti. Kini mereka naik mobil menuju rumah Pak Sastra.

Mulai hari ini hingga setahun kedepan, Raka akan menginap di dalam hotel prodeo. Bergaul dengan narapidana kelas ringan hingga kelas berat. Ia harus berhati-hati. Harus pintar-pintar melihat situasi. Harus pandai membaca karakter orang lain di penjara. Semua yang ada di dalam adalah penjahat. Terbayang wajah Mamak dan adik-adiknya bergantian. Rasa bersalah menguap, akhir-akhir ini tidak peduli pada mereka. Terlalu mementingkan pekerjaan yang sudah menjerumuskannnya. Ditambah kehadiran Sari yang semakin menyibukkan dirinya.

Dalam sel yang ditempati sekarang, hanya ada tiga orang ditambah dirinya. Tidak seperti sel-sel lainnya, bertumpuk para napi. Bisa berisi lima belas orang, sangat tidak manusiawi.

Tiga orang itu tidak terlihat seperti kebanyakan penghuni sel lainnya. Sama seperti dirinya, terawat. Mungkin saja mereka baru masuk sel. Tetapi kok barengan. Itulah yang belum dimengerti Raka.

Raka mulai membiasakan diri hidup di dalam kerangkeng dengan peraturan yang ketat. Iapun turut membiasakan diri bergaul bersama napi lain. Bila teman satu sel lainnya tidak mau membaur, beda sekali dengannya. Ia dengan mudah masuk ke setiap kelompok pergaulan di dalam penjara. Mungkin kebiasaan nongkrong-nongkrong ketika menjadi pengangguran sangat membantunya

Dalam sel yang ditempati sekarang, hanya ada tiga orang ditambah dirinya. Tidak seperti sel-sel lainnya, bertumpuk para napi. Bisa berisi lima belas orang, sangat tidak manusiawi.

Tiga orang itu tidak terlihat seperti kebanyakan penghuni sel lainnya. Sama seperti dirinya, terawat. Mungkin saja mereka baru masuk sel. Tetapi kok barengan. Itulah yang belum dimengerti Raka.

Lihat selengkapnya