AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR

hadi wiyono
Chapter #28

Surgaku Sayang Surgaku Menghilang

BAB dua puluh tujuh - surgaku sayang surgaku menghilang


...Kapan lagi berbakti pada ibumu.

Selagi napas masih dititipkan padanya, sering-seringlah mendoakannya,

berlaku baik padanya, jangan sekalipun mengecewakannya.

Dialah kunci surgamu...


Mamak duduk di ruang tamu menemani Rasya mengerjakan pekerjaan rumahnya. Masih bermasker. Sisa tenaganya tak mampu memaksanya duduk tegak. Ringkih sekali tubuhnya sekarang, ia bersandar di sofa yang sudah tak usang lagi. Mengenai sofa itu, Rindu sudah menggantinya. Semua perabotan di ruang tamu ini pun diganti dengan yang baru. Bahkan televisi yang menempel di dinding baru saja dibelinya. Hiburan untuk Radit yang suka tontonan bola liga-liga Eropa. Dan Rasya yang suka sekali menonton kartun buatan negara tetangga.

Mamak berjalan ke belakang, mengambil air wudhu. Lalu ia kembali ke kamar melaksanakan salat zuhur. Mamak menguatkan berdiri di atas sajadah, untuk kali ini ia ingin sempurna menjalankan kewajibannya. Tidak seperti hari-hari kemarin, Mamak duduk di atas sajadah bersandar tempat tidur.

Dengan sisa harapan dan tenaga yang dimilikinya, Mamak khusu’ sekali menjalankan salatnya. Dalam sujud terakhirnya, dengan deraian air mata Mamak berdoa, Mamak tidak meminta kesembuhan lagi, Ia hanya meminta jalan yang terbaik untuknya. Mamak juga meminta anak-anaknya agar kembali pada-Nya dan selalu dalam lindungan-Nya.

Itu adalah sujud ternikmat yang tidak pernah Mamak rasakan sebelumnya, sujud yang menenangkannya, sujud yang menyerahkan diri sepenuhnya pada Sang Pencipta.

Tak lama suara dengkuran terdengar pelan, Mamak sedang menahan kesakitan. Ruhnya tengah merambat pelan keluar dari tubuhnya. Sebelum ruh itu benar-benar pergi, Mamak sempat berucap lirih bersaksi Tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi Nabis Muhammad adalah utusan-Nya.

Dalam sujud terakhirnya, bibir Mamak tersenyum, butiran airmatanya meleleh hangat, membasahi sajadah. Jiwanya terlepas lembut bagaikan daun kering terhempas angin dari rantingnya, melayang menjauh.

Mamak telah pergi untuk selamanya. Menyusuri perjalanan di kehidupan selanjutnya.

Di ruang tamu Rasya masih saja menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Sampai deru motor terdengar memasuki halaman rumah. Radit baru saja pulang dari sekolah. Disapa adiknya yang sedang membereskan buku-bukunya.

“Udah selesai ngerjain pe-ernya?” tanya Radit sambil mengelus kepala Rasya.

“Udah, Kak.”

“Mamak udah makan belum? Udah minum obat juga?”

“Tadi mamak bilang mau salat, Kak.” Rasya kembali fokus menyelesaikan tugas sekolahnya.

Radit sempat menoleh ke kamar, filihatnya Mamak masih sujud. ia beranjak ke dapur menyiapkan makanan untuk Mamak dan Rasya, membawanya ke ruang tamu. Radit kembali menghampiri kamar Mamak, dilihat Mamak saja sujud, lalu ia kembali lagi ke ruang tamu.

“Rasya, kamu makan duluan. Mamak masih salat.”

Lihat selengkapnya