BAB dua delapan - raga tak berjiwa
...Akan tiba satu waktu kita berpisah.
Berpisah dari keluarga, handai taulan, sahabat, partner kerja.
Dan yang lebih menyakitkan adalah berpisah dari fananya keindahan dunia,
Tapi yang membuat sedih tak kunjung sirna,
kita menyaksikan perpisahan berpisah jiwa dari raga pada orang yang kita kasihi...
Jam sembilan malam, Rindu dan yang lainnya baru saja selesai. Rapat maraton yang melelahkan. Wajah-wajah tertampak lusuh. Ibu HRD masuk ke dalam dan segera menghampiri Rindu. Membisiki lembut di telinganya.
“Bisa keluar sebentar, Rindu. Ada yang mau saya bicarakan.”
“Baik, Bu.” Rindu meletakan perlengkapan rapatnya. ia mengikuti langkah Ibu HRD.
Diluar ruangan, Ibu HRD itu memandang sedih Rindu yang tadi sukses dengan presentasinya. Tanpa bicara lagi, ia langsung saja memeluk Rindu, sementara gadis itu masih terpaku belum mengerti dengan sikap anehnya.
Ibu HRD menggenggam tangan Rindu setelah melepaskan pelukannya, kemudian berkata lirih. “Ibumu sudah tiada.”
Rindu berdiri kaku. Memandang tak percaya wajah Ibu HRD. “Tadi kakakmu yang memberitahu saya. Sekarang kamu pulang saja, biar nanti saya yang memberitahu yang lainnya,” ujarnya mengusap lengan Rindu.
“Biar saya ambilkan perlengkapan kamu di dalam.” Ibu HRD kembali lagi sembari membawa barang-barang Rindu.
Gadis itu kembali memeluk Ibu HRD. Ia pamit lebih dahulu. Tergesa langkah kakinya keluar dari hotel tersebut. Di dalam mobil sempat sekali Rindu melihat gawainya. Dari siang tadi ada pesan dari Radit mengenai kabar meninggalnya Mamak. Panggilan pun sampai berkali-kali.
Penyesalan menderanya. Dadanya berkecamuk sesak. Rindu tak kuasa menahan tangisnya. Kepalanya tertunduk berbantalkan tangan di atas kemudi. Ia teramat sedih. Kehilangan surga yang tidak dihiraukannya belakangan ini.
Sejam berlalu, Rindu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Tepat di depan rumah Bu Ratri. Rindu sempat menengok rumah tersebut, ada wanita tua berdiri menatapnya. Itulah wanita yang telah menjebloskan Raka menjadi pesakitan. Ingin sekali ia menghampiri wanita itu dan menamparnya. Adu tatap antara dirinya dan Bu Ratri berlangsung beberapa detik.
Geram sekali Rindu. Kalau saat ini sedang tak berduka, ia sudah mendatangi wanita itu. Segera tersadar, ia berlari ke rumah. Lalu memeluk tubuh tak bernyawa, yang terjadi kemudian pecah tangisnya. Tumpah air matanya.
Sama seperti Raka, penyesalan itu datang terlambat. Rindu menatap wajah pilu kedua adiknya. “Maafin Kak Rindu.”