Nayla menembus gerimis. Air rintik mencurah dari langit yang gelap. Langkahnya sedikit pincang namun tegas membelah semak, tangannya menyapu wajah, menyeka tetes hujan di wajah. Wati berlari tangkas mengejarnya. Setelah melewati beberapa rumah dan warung penduduk mereka menembus setapak jalan di kebun dan ladang. Dan setelah Pura Melasti sebagai bangunan terakhir, mereka mulai menginjak pasir pantai.
Waktu sebenarnya telah siang namun hujan ringan membuat mendung muram.
“Tunggu! Aku ikut!” teriak Wati mempercepat langkahnya. Daun pohon-pohon kelapa, waru, ketapang, dan pandan laut bergoyang oleh angin basah pantai.
Nayla tersenyum lebar. Matanya membulat senang menangkap hasrat Wati yang hendak menemani. Keduanya lantas berlari beriringan dengan wajah menatap penuh harapan pada laut yang membentang di depan. Laut Krui yang menyimpan asa.
Gulungan ombak berdebur membentur karang di pantai. Siang ini tak banyak orang di pantai. Para nelayan sudah melaut, para pengunjung sepi karena hari kerja, dan hanya ada para pemilik warung yang menunggu jualannya sambil menggoreng atau menyiapkan sesuatu.
“Mau cari rumput laut tho?” teriak Ni Luh di seberang pura tampak habis sembahyang pagi. Bau dupa tercium tajam disertai aroma bunga yang harum semerbak. Asap dupa menguar ke udara dari pura yang bernuansa kemerahan itu, suasana jadi syahdu dalam latar langit yang kelam.