Dalam kepungan angin badai, Wati melihat sosok lelaki itu yang menggotong Nayla. Dia menggeletakkan Nayla di dekat sebuah pohon kelapa. Tempat yang relatif aman dari amukan gelombang laut dan angin kencang. Nayla memberanikan diri mendekat, namun lelaki itu tiba-tiba menjauh cepat. Dia buru-buru pergi. Dalam terpaan angin yang masih kencang, dan cuaca kelam, Wati menatap tajam agar lebih jelas melihat sosoknya. Lelaki itu menghilang dibalik semak belukar perdu yang rapat.
“Siapakah dia?” batin Wati mengingat-ingat sosok itu terutama bentuk punggung dan postur tubuhnya. “Seperti Arman, iya Arman,” kata Wati sambil tersenyum tipis. Dia langsung mendekap tubuh Nayla yang terasa dingin. Wati berteriak-teriak minta tolong sambil menangis. “Tolong, tolong!!” teriak Wati sekeras-kerasnya.
Awan gelap memudar. Langit berangsur-angsur terang. Cuaca mulai tenang. Angin berembus sepoi-sepoi. Di langit kawanan burung pipit mengudara dengan riang, bercericit tak henti-henti. Seekor burung elang terbang berputar-putar. Kepakan sayapnya lebar-lebar mengayuh angin di udara. Setelah segalanya terlihat kacau, kini langit tampak tenang dan bersih.
Orang-orang berkerumun di sekitar tubuh Nayla, riuh dan gaduh, namun tak berbuat apa-apa. Wajah Nayla tampak pucat, pingsan. Wati teringat adegan di film. Dia segera memberi pertolongan pada Nayla dengan memompa bagian dada.
Wati makin cemas apalagi ingatannya akan kecelakaan yang menimpa Nayla zaman dulu membuncah di kepalanya. Kaki Nayla berdarah-darah akibat jatuh disenggol truk, membuat kaki itu tak sama persis dengan sebelahnya, membuat jalannya jadi sedikit pincang. Ingatan itu membuat Wati terus memompa dada Nayla tanpa henti. Dia ingin sahabatnya itu selamat.
Sobar, suami Nayla, datang tergopoh-gopoh. Dadanya terdegup kencang. Kerumunan menyeruak memberi jalan. Saat demikian, Nayla terbatuk. Air keluar dari mulutnya. Wati lega. Sobar mendekat dan memeluk tubuh istrinya, menepuk-nepuk punggungnya, membuat makin banyak air keluar dari mulut Nayla.
Sobar dengan sekuat tenaga membopong Nayla pulang. Menyusuri setapak jalan diantara warung-warung kecil di pinggir pantai. Wati bernapas tenang mengikuti dari belakang. Orang-orang memandang dari belakang sambil bersyukur dalam hati.
Dari kejauhan, Arman memandang keadaan mereka dengan tatapan lega.
***