Suara sapi melenguh, “moooo,” terdengar beberapa kali, tampaknya sedang lapar. Sobar mengeluarkan satu-satunya sapi itu dan mengikat talinya ke sebatang pohon kelapa. Ketika hari libur, Iqbal diikuti Kurnia biasa membawanya ke padang rumput dekat Pura Melasti untuk diumbar. Sobar lalu membuka kandang ayam, membuat ayam seketika ribut berlarian keluar kandang. Suara sapi dan ayam merobek kesunyian pagi itu.
Sapi Krui jenis Jawi Peghia itu pemberian dari Maznan, bapaknya Nayla. Setiap anak diberi masing-masing satu ekor anakan untuk modal beternak, termasuk Nayla. Kini sapi itu mulai besar, usianya sudah menginjak satu tahun. Sedangkan ayam yang diternakkan jenis ayam lokal yang mudah dipelihara dan tahan terhadap penyakit, ada 2 ekor jantan, 7 ekor betina, serta 12 anakan. Waktu baru saja terang tanah, mereka sudah ribut cari makanan, mematuk apa saja di kebun belakang.
Nayla terbangun, karena kelelahan dia telat Shalat Subuh. Tubuhnya terasa mulai membaik setelah istirahat dan dibaluri minyak angin serta minum wedang jahe. Dia membuka jendela, menghirup udara segar pagi hari. Sepasang matanya sejenak menikmati kehijauan yang membentang di kebun belakang ada pohon damar, pete, dan bayur. Dan tampak sesuatu yang bergerak-gerak, ternyata seekor musang yang memanjat pohon kelapa dengan ekor meliuk-liuk.
Nayla mulai memikirkan apa yang bisa dilakukannya untuk menghasilkan uang. Pikiran itu sesungguhnya ingin dia utarakan atau katakan pada suaminya, tapi sungguh dia tak mampu, tak sanggup bicara. Kadang dia bertanya, dan berpikir, sesungguhnya terbuat dari apa itu pikiran, bukankah seharusnya suaminya tahu dan menyadari kebutuhan hidup keluarganya yang selalu kekurangan.
Nayla mengusir resah hatinya. Dia berdiri, walau dengan tubuh yang sedikit lemas, kakinya melangkah ke dapur. Dia harus menyiapkan sarapan. Masih ada nasi sisa kemarin, dia akan memasak nasi goreng. Nayla meracik bumbu dengan bawang putih, kecap, dan garam. Tak ada telor. Tak ada uang untuk beli lauk. Nayla tak pernah mau berhutang.
Terdengar bunyi gayung orang mandi, pasti Iqbal sedang mandi. Selesai memasak, Nayla hari ini akan coba ke juragan Guru Gede -suami Ni Luh- untuk meminta pekerjaan.
Seragam telah disiapkan Nayla yang disampirkan di kursi. Untuk urusan Iqbal, dia bisa sendiri, sudah kelas enam SD, bisa mandi dan makan sendiri. Dia berangkat sekolah naik sepeda ontel dengan adiknya, Nurul yang mulai bangun. Nurul kelas tiga.
Nayla yang hendak ke juragan Guru Gede seketika terhenti oleh gerak dan suara Kurnia yang menguap. Anak itu belum berumur 5 tahun. Nayla sigap mendekat, dan menepuk-nepuk bokong Kurnia agar tertidur lagi. Mulut kecil bocah itu kembali menguap, matanya masih memejam, dan tampaknya mulai tidur lagi.
Nayla segera berangkat ke rumah Guru Gede mumpung bocah itu masih tidur. Bisa repot nanti jika Kurnia ikut saat dia dapat kerjaan. Sebelum ke sana, dia mampir ke rumah kakaknya.
“Udoh, Nayla titip Kurnia ke bibi ya,” kata Nayla pada kakaknya, Andi yang sedang membuka bengkelnya.
“Ooh kau sudah sehat kah?” kata Andi sambil memanggil istrinya. “Siti, ini ada Nayla!” teriak Andi memanggil istrinya. Siti berasal dari Jawa, dahulu ikut orang tuanya bertransmigrasi ke Lampung.
Nayla tersenyum lebar saat Siti datang.
“Mau kemana?” tanya Siti menyalami Nayla.
“Guru Gede, cari kerjaan,” jawab Nayla cepat.
“Bukannya kau masih sakit,” jawab Siti.
“Sudah enakan, bi. Tolong titip Kurnia ya, masih tidur dia,” kata Nayla memeluk Siti dan melangkah pergi. Andi hanya menggeleng lemah atas kemauan keras adiknya itu. Siti mengangguk, dan buru-buru ke rumah Nayla untuk menengok Kurnia.
***
Guru Gede adalah juragan kelapa. Dia juga seorang guru, mengajar pelajaran agama Hindu di sekolah. Di Krui, keragaman dijaga dengan harmonis. Banyak pura dan tempat sembahyang di depan rumah pemeluk Hindu, tapi di sini juga ada masjid dan gereja. Semua hidup berdampingan tanpa ada perselisihan karena perbedaan agama.
Nayla berjalan menyusuri setapak sepanjang pesisir. Sinar matahari menyelinap di sela-sela pohon kelapa yang berjajar. Dari kejauhan terdengar debur ombak yang menjadi kebanggaan daerah itu. Di halaman rumah Guru Gede, sudah ada beberapa ibu yang berkumpul. Di hadapan mereka bertumpuk ratusan butir kelapa hasil panen para penyabit sehari sebelumnya.
Kadek anak Guru Gede berjalan sambil menyapa ibu-ibu lalu naik truk di kursi sopir. Dia memindahkan truk itu ke belakang rumah agar tempat buat mengupas kelapa lebih lapang dan leluasa. Pura di depan rumah Ni Luh menguarkan harum dupa. Ada sesajen berupa kembang berbagai bunga di besek pura. Berarti Guru Gede sekeluarga telah bersembahyang pagi.
Masing-masing segera duduk di kursi kayu dengan sebilah besi runcing yang tertancap kokoh di tanah. Alat sederhana itu menjadi sahabat mereka setiap hari untuk mengupas sabut kelapa.
“Semoga hari ini selesai ya ibu-ibu,” ujar Guru Gede sambil tersenyum.
“Iya,” jawab ibu-ibu hampir berbarengan. Guru Gede mengangguk.
Satu per satu kelapa ditusukkan ke ujung besi. Dengan gerakan yang sudah terlatih selama bertahun-tahun, sabut disobek, diputar, lalu dilepaskan hingga tempurung kelapa tampak bersih. Gerakan mereka begitu cepat, seolah tangan telah hafal setiap lekuk kelapa yang dipegang.
Kawanan burung pipit dan gereja berterbangan diantara pohon kelapa di sekitar mereka. Nayla dan ibu-ibu lain terus mengupas kelapa. Sabut kelapa itu nanti dibentuk jadi persegi buat dijual ke pengepul keset untuk diolah dan dipasarkan sampai Bandar Lampung. Keringat mulai membasahi dahi dan punggung Nayla, dia tak merasakan kelelahan, justru rasa senang dan bahagia bisa berkumpul bersama ibu-ibu lain untuk bekerja. Sesekali mereka mengobrol, bercakap-cakap tentang apa saja.
Menjelang sore, tumpukan kelapa yang semula menggunung mulai berkurang. Di sisi lain halaman, tempurung dan sabut tersusun rapi. Sabut kelapa yang tidak jadi bahan keset, dimanfaatkan sebagai bahan bakar atau media tanam.
“Alhamdulillah, selesai juga,” ucap Nayla sambil mengusap keringat di dahinya.
Mereka memandang hasil kerja hari itu dengan rasa senang dan bangga.
“Aku senang bekerja begini,” kata seorang ibu. “Capek memang, tapi kalau ramai begini rasanya pekerjaan jadi ringan.” Nayla dan ibu-ibu yang lain mengangguk-angguk, menyetujui.
Setelah pekerjaan mengupas kelapa rampung, semua langsung dapat upah. Mengupas satu kelapa dinilai 25 rupiah. Tinggal menjumlahkan seberapa banyak butir kelapa yang selesai disabit. Dengan upah itu, Nayla bisa membeli beras dan kebutuhan rumah tangga lain.