Air Mata Yang Diharamkan

Temu Sunyi
Chapter #12

Tertawa yang Mencabik Hati


Pak polisi menatapku, matanya bingung. Aku tahu, kata-kataku tak masuk akal baginya.

Mungkin dia tak pernah tahu bagaimana rasanya hidup dalam rumah yang lebih gelap dari malam tanpa bintang.

Sebelum dia bisa menjawab, tawa itu datang. Tawa mereka—mereka yang tidak pernah tahu rasa sakit.

“Mereka bilang Brendi ditangkap pak polisi! Bawa alkohol!”

Mereka tertawa, seolah ini semua hanya lelucon.

Seolah hidupku adalah permainan yang bisa mereka tertawakan,

tanpa peduli bahwa dalam setiap tawa mereka, ada bagian dari diriku yang hancur.

Aku ingin berteriak, menghentikan semuanya, tetapi mulutku terkunci rapat.

Aku hanya bisa berdiri, terdiam, mematung di sana. Pak polisi masih menatapku dengan kebingungannya,

seolah aku hanya anak kecil yang kehilangan arah.


Senyum yang Menyembunyikan Semua Luka


Pak polisi mulai berbicara, kata-katanya seperti aliran air yang tidak pernah bisa sampai ke hatiku.

Lihat selengkapnya