Langkahku senyap. Seperti hatiku yang selalu berjalan sendiri, dalam gelap yang tak pernah dijanjikan fajar.
Aku masih membawa bayang-bayang kejadian di sekolah tadi—bayang pak polisi yang salah mengerti,
senyum bodohnya yang menganggap perkataanku hanya lelucon anak kecil.
“Jangan terlalu dipikirkan,”
katanya.
Kalau ini takdirku, aku akan telan. Walau pahitnya seperti karat di lidah, aku sudah mencoba.
Sekali saja aku berteriak, sekali saja aku berkata jujur. Dan dunia membalasnya dengan tawa.
Lamunanku tidak membawaku ke tempat damai, hanya membawaku pulang—
ke bangunan yang mereka sebut rumah, tapi bagiku…
itu adalah penjara tanpa jeruji. Rumah seharusnya tempat kembali, bukan tempat dihancurkan.
Tapi itu bukan rumahku. Itu tempat derita tinggal dan bahagia dikuburkan hidup-hidup.
Derap Luka di Depan Rumah
Aku terhenti. Kerumunan. Wajah-wajah penasaran. Bisik-bisik yang menusuk.
Kenapa rumahku dikerumuni orang?
Aku berusaha menerobos. Nafasku tercekat saat mataku menangkap pemandangan yang,