Air Mata Yang Diharamkan

Temu Sunyi
Chapter #14

Petang yang Membiru Luka


Petang kembali menjelang, perlahan menyelimuti langit dengan warna kelabu.

Tapi tak ada senja yang lebih muram dari luka di mata ibu—

perempuan yang melahirkanku dengan darah dan kini terkulai di lantai, menangis dalam diam.

Ayah? Entah ke mana ia pergi. Setelah puas menguras receh dari dompet ibu, ia lenyap seperti bayangan malam,

mungkin untuk meneguk arak murahan yang sudah lama menggantikan akal sehatnya.

Aku tak bicara. Hanya menatap ibu yang memelukku di kamar, tubuhnya gemetar,

nadanya pecah dalam isakan yang nyaris tak bersuara.

“Nak…

maafkan ibu ya nak…

Belum bisa bikin kamu bahagia…

Belum bisa bikin kamu tertawa, bukan tawa yang disuruh, tapi tawa yang tumbuh dari bahagia…”

Aku diam. Aku ingin menangis, tapi seolah hati ini sudah kering.

Terlalu sering terluka sampai tak tahu lagi cara berair mata.

Tapi senyumku pecah, dan air mata jatuh juga—bukan karena lemah, tapi karena terlalu kuat menahan semuanya sendirian.

“Bu… kita pergi saja. Biar ayah nggak nyakitin kita lagi…”

kataku lirih.

Ibu menggenggam tanganku—lemah, tapi hangat.

“Kalau bukan karena kamu, ibu sudah lama pergi,

nak…

Lihat selengkapnya