Malam itu terlalu tenang, seolah semesta sedang menarik napas panjang sebelum badai mengguncang.
Dan benar saja… dentuman pintu seperti petir menghantam dada.
Aku tahu suara itu, aku hafal langkah kakinya, dan aku hafal bau arak yang menyelinap bersama bayangannya.
Ayah. Puluhan luka menjelma hanya dengan kemunculannya.
Kali ini ia datang dengan dada terengah, bukan karena lelah, tapi karena takut.
Takut pada sesuatu yang lebih besar dari dosa: penangkapan yang gagal.
"Sial! Kalau saja aku lebih cepat, aku pasti lolos dengan lebih banyak!"
"Ini semua salah Joni!
Gobl0k bawa motornya!"
"Tapi… ya Tuhan, untung aku gak ditangkap polisi."
Lelaki itu menyebut nama Tuhan sambil menginjak-injak keadilan.
Mulutnya bersyukur, tapi tangannya masih bau darah dan barang curian.
Aku di dalam kamar, memeluk lutut seperti anak yang dikurung dalam tubuh yang hampir dewasa.
Andai saja dia tertangkap, aku akan punya malam yang lebih sunyi, tapi lebih selamat.
Andai saja dia tak kembali ke rumah ini, mungkin ibu tak akan perlu menyeka darah dari wajahnya lagi.
Tapi andai adalah racun manis yang tak pernah mengenyangkan.
Dan takdir… adalah tangan besi yang tak pernah sudi berkompromi.