Air Mata Yang Diharamkan

Temu Sunyi
Chapter #16

Detik yang Meretakkan Segalanya


Matahari belum muncul, tapi bentakan sudah menyalak seperti api yang haus membakar.

Pagi itu tidak seperti biasanya. Ada sesuatu dalam nada suara ibu yang tidak lagi tunduk.

Dan aku tahu…

itu bukan keberanian—itu keputusasaan yang sudah terlalu penuh.

Aku tak keluar kamar. Aku hanya menutup telinga dengan tangan kecilku yang gemetar.

Karena aku tahu:

tidak ada yang bisa kulakukan. Aku terlalu kecil untuk jadi tameng, terlalu rapuh untuk jadi pelindung.

Lalu... Sunyi.

Tapi bukan sunyi yang tenang. Sunyi yang janggal—seolah dunia menahan napas.

Lalu… jeritan. Jeritan cemas. Bukan makian.

Aku membuka pintu. Langkahku ragu. Tapi sesuatu menuntunku: ketakutan.

Lihat selengkapnya